Opini

Bagaimana Peran Mahasiswa di Masa Pandemi?

Oleh : Mamay Nurbayani*

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mahasiswa adalah seseorang yang belajar di perguruan tinggi. Dalam struktur pendidikan di Indonesia mahasiswa memegang status pendidikan tertinggi di antara yang lain.

Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi baik di universitas, institute, atau akademi. Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi dapat disebut sebagai mahasiswa. Tetapi pada dasarnya makna mahasiswa tidak sesempit itu. Terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi hanyalah syarat administratif menjadi mahasiswa, tetapi menjadi mahasiswa mengandung pengertian yang lebih luas dari sekedar masalah administratif itu sendiri. Kemahasiswaan, berasal dari sub kata mahasiswa. Sedangkan mahasiswa terbagi lagi menjadi dua suku kata yaitu maha dan siswa.

Seorang mahasiswa tidak hanya mempelajari bidang yang ia pelajari tapi juga mengaplikasikan serta mampu menginovasi dan berkreatifitas tinggi dalam bidang tersebut. Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa begitu besar. Mahasiswa adalah agen perubahan. Menjadi seorang yang diharapkan dapat memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat bangsa di berbagai belahan dunia.

Dari makna sebagai agen perubahan maka seharusnya mahasiswa mampu menjadi penggerak yang mengajak seluruh masyarakat menuju perubahan kearah yang lebih baik. Dengan pertimbangan berbagai ilmu, gagasan serta pengetahuan yang mereka miliki. Bukan waktunya lagi sebagai mahasiswa hanya diam tanpa peduli dengan permasalahan bangsa dan negara. Karena di pundak merekalah (mahasiswa) titik kebangkitan suatu negara atau bangsa diletakan.

Terlepas dari segala makna yang diberikan kepada seorang mahasiswa, apakah sepadan dengan pergerakan atau perubahan yang telah dibuatnya? Tercatat dalam sejarah Mei 1998, ratusan mahasiswa berhasil mendesak Presiden Soeharto untuk mundur dari jabatannya sebagai Presiden. Atau lebih dikenal dengan Era Reformasi 98.

Dari kejadian tersebut maka mahasiswa mempunyai peran penting bagi negara, atau sering disebut juga sebagai “penyambung lidah rakyat”.

Namun, ketika pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia apa kabar gerakan mahasiswa? Apakah hanya sibuk dengan tugas? Atau nonton drama berepisode-episode setiap malam? Atau hanya bersenang-senang dengan hewan peliharaan? Atau bahkan ada niatan untuk menikah muda? 

Pada masa sebelum pandemi mahasiswa banyak berkegiatan dengan jadwal-jadwal rapat nan padat. Masih bisa berbangga diri dengan pencapain dalam ruang lingkup kemasyarakatan. Beberapa kegiatan seperti menjadi relawan dalam mengajar anak anak di kolong jembatan, sampai mendatangi daerah-daerah terpencil untuk melakukan pengabdian. Dan masih banyak lagi cerita-cerita yang menggema tentang sosok para mahasiswa.

Waktu begitu cepat berlalu, dan kegiatan tersebut pula ikut berlalu. Bagaimana tidak, kegiatan di luar rumah dibatasi karena untuk memutus rantai penyebaran virus Corona. Tidak ada persiapan dalam menghadapi situasi seperti ini, kerena boleh dikata hal seperti ini “dadakan” dan di luar dari dugaan.

Maka berpindah haluanlah kegiatan mahasiswa, dari yang masuk mata kuliah pagi dibarengi dengan telat, namun sekarang hanya menggunakan aplikasi berbasis online sambil rebahan. Dari yang kajian di waktu senja sekarang hanya link-link grop kajian online yang bertebaran. Dari rapat-rapat yang tiadak hentinya sekarang menjadi para penjual handal dengan segala caption tawarannya. 

Terlepas dari latar belakang apapun para mahasiswa, tidak akan mengurangi makna dari sosok seorang mahasiswa. Mengingat kembali kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu; Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian.

Dari ketiga makna tersebut dapat disimpulkan bahwa tugas dari seorang mahasiswa bukan hanya pengajaran, atau bukan hanya untuk melakukan penelitian atau bukan hanya pada pengabdian kepada masyarakat. Tetapi kegita hal tersebut harus selaras dengan kegiatan sehari-hari. 

Mulai dari mahasiwa kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), atau mahasiswa kura-kura (kuliah rapat kuliah rapat), atau mahasiswa kuda-kuda (kuliah dagang kuliah dagang). “Cap” tersebut tidak akan mengurangi dari idealnya sosok mahasiswa, tidak peduli seberapa banyak tugas yang ada. Pengajaran, peneliatan, dan pengabdian harus tetap dijalani dan menjadi identitas para mahasiswa.

Ketika saya menulis tulisan ini bukan berarti saya seorang sosok mahasiswa ideal pujaan para mahasiswa lain. Saya pun masih belajar dan terus melakukan introspeksi diri atas kekurangan dalam ber-mahasiswa.

*Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta

Editor : Yulianto Adi Nugroho
Ilustrator : Goni

Comment here