Opini

HIDDEN RISK : BENDA – BENDA DI SEKITAR KITA

Oleh : Alafghoni

Beberapa waktu lalu saya membeli sesuatu hanya karena mengikuti dorongan hati: mobil balap kecil berwarna cerah terbuat dari kayu, dengan bulatan hijau untuk kepala pengemudi dan empat cakram hitam sebagai ban yang terpasang di kedua sisi badannya. Harga mainan itu hanya 99 sen. Saya beli untuk cucu saya yang berusia 18 bulan, yang saya pikirkan pasti ia akan menyukainya.

Sesampai di rumah dengan membawa mobil balap kayu mungil itu, kebetulan saya membaca tulisan yang mengungkapkan bahwa karena timbal dalam cat membuat warna terlihat lebih cerah (terutama kuning dan merah) dan lebih awet—dan lebih murah dari bahan lain—kemungkinan besar mainan murah mengadung zat tersebut. Lalu saya mendengar berita, pengujian terhadap 1.200 jenis mainan yang diambil dari bermacam-macam toko—termasuk toko tempat saya membeli mobil itu—mengungkapkan bahwa sebagian besar mengadung kadar timbal dalam berbagai tingkat.

Saya tidak tahu apakah cat kuning mengilat pada mainan itu mengandung timbal atau tidak tetapi saya yakin betul, setelah berada di tangan cucu saya mainan itu akan langsung mendarat di mulutnya. Kini, setelah beberapa bulan, mobil-mobilan itu masih ada di meja: saya tidak jadi memberikannya.[1]

Itulah cerita singkat Daniel Goleman sebagai pembuka bab awal buku miliknya. Kata kunci yang mencoba Goleman sampaikan adalah selalu ada harga tersembunyi (resiko tersembunyi) dari benda-benda yang kita beli dan pakai sehari-hari—yang berdampak terhadap planet bumi, kesehatan kita, atau buruh yang bekerja untuk menghasilkan benda tersebut, misalnya mainan dengan cat mengadung timbal.

Lain cerita, beberapa waktu lalu saya didiagnosis positif memiliki ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas)–infeksi akut yang menyerang satu komponen saluran pernapasan bagian atas, bagian yang terkena biasanya hidung, sinus, faring, atau laring. Bagian sistem pernafasan ini bertugas mengarahkan udara yang kita hirup dari luar ke trakea dan akhirnya ke paru-paru dimana respirasi berlangsung.[2]

Sesampai di rumah kebetulan saya menonton video bahaya asbestos—atau yang lebih populer dikenal asbes—lalu saya membaca beberapa artikel tentang paparan asbes dapat menyebabkan ISPA penyakit yang saya derita. Saya tidak tahu apakah ISPA ini berasal dari langit-langit rumah saya yang mengadung asbestos, namun yang jelas World Health Organization (WHO) mengkalkulasi paparan asbes mengakibatkan 107.000 jiwa meninggal setiap tahun di seluruh dunia.[3]

Mungkin tak banyak yang tahu pula, secara regulasi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun pada lampiran 1, asbes dikategorikan sebagai kategori pertama (A1) bahan berbahaya dan beracun, namun tak indonesia bila peraturan ada ditujukan untuk dilanggar.

Asbes atau asbestos ini pula pada tahun 2018 sempat menjadi batu sandung perusahanan bedak bayi Johnson & Johnson sampai harga sahamnya anjlok. [4]

Sebentar, Sudahkan sahabat hijau mengecek apakah langit-langit di tempat sahabat membaca artikel ini bebas dari kandungan asbes tak seperti langit-langit yang ada di rumah saya? Mengetahui resiko-resiko yang tersembunyi pada benda yang ada disekitar kita saya rasa perlu, sebab seringkali kerusakan-kerusakan yang terjadi pada bumi dan tubuh manusia hanya berasal dari ketidaktahuan akan bahaya tersembunyi di dalam benda-benda— sederhana, kecil, dan yang kita nilai tak memiliki efek signifikan—misalnya timbal, plastik supermarket, dan lelangit atau lantai yang mengadung asbestos. Semoga kita dapat semakin peka terhadap sekeliling kita, tak hanya peka oleh whatsApps story dan instagram story milik dia. Salam.

Oleh: Alafghoni

[1] Goleman, Daniel. 2010. Ecological Intelligence. Jakart: PT Gramedia.

[2] https://hellosehat.com/penyakit/infeksi-saluran-pernafasan-atas-ispa/

[3] https://www.who.int/ipcs/assessment/public_health/chemicals_phc

[4] https://tirto.id/johnson-johnson-bantah-bedak-bayinya-mengadung-asbes-db48

*Bidang Kajian Publik Komite Nasional Kader Hijau Muhammadiyah

Comment here