Opini

MENUJU ABAD EKOLOGI

menuju abad ekologi

OLEH : MILADA RA*

Semakin kompleksnya masalahan dalam kehidupan, telah menandakan bahwa peradaban umat manusia memang senantiasa terus bergerak, melangkah maju dan menemui hal ikwhal baru sekaligus juga masalah baru dalam setiap zamannya. Dalam agama Islam sabda Rosulullah S.A.W. yang dikenal mengajarkan: “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Selain hadist tersebut pendapat lain juga diperkuat dengan perkataan salah seorang Khalifah Islam yang terkenal, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu” – Ali Bin Abi Thalib.  

Terlepas dari sumber mana yang paling kuat antara hadist Nabi dengan pesan Khalifah tersebut, secara garis besar titik tekan dalam kedua pesan tersebut adalah perubahan zaman yang pasti akan selalu terjadi. Sejalan dengan itu, bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan tinggi, sebuah catatan sejarah akademis juga telah membagi rentang-rentang dekade dalam kehidupan umat manusia, dekade atau era tersebut ditandai dengan pemusatan pandangan peradaban manusia di kulit permukaan bumi ini. Berpangkal pada alam pikiran bangsa Yunani, kita mengetahui awal pemusatan perhatian manusia tersebut dengan era mitologi atau yang disebut juga dengan era filsafat alam. Era ini adalah pemusatan pengetahuan manusia pada kekuatan adikodrati alam terhadap kehidupan manusia secara kolektif.

Selanjutnya setelah abad ke-6 SM, filsafat alam telah berganti dengan era baru yang dikenal dengan filsafat moral (sosial), era ini ditandai dengan manusia yang mulai berupaya memikirkan dirinya (manusia) sendiri di dunia, era ini dipelopori oleh tokoh yang bernama Socrates yang berusaha menyelamatkan kendali kebenaran dari permainan alam fikiran Yunani sebelumnya, Socrates melahirkan murid yang dikenal dengan nama Plato, selanjutnya sang Plato melahirkan murid yang bernama Aristoteles, Plato dan Aristoteles inilah yang akhirnya menjadi titik tolak baru dalam alam fikiran dan peradaban Yunani, penyemai corak pemikiran idealisme dan ralisme, manusia mulai mengenal alam fikiran dan alam nyata (alam rohani dan jasmani).

Sembari era mitologi dan filsafat moral terus berkembang, muncul gerakan era baru yang disebut dengan era teologi (abad 4 – 15), terdapat suatu perkenalan manusia pada ajaran suatu agama, setelah berdirinya gereja-gereja, maka filsafat terbentur dengan doktirn agama, hal ini sebagimana cerita Copernicul dan Galileo yang yang menjadi korban atas temuan teori ilmiahnya yang bertentangan dengan gereja, akhirnya era tersebut familiar dengan sebutan abad kegelapan, cahaya akal manusia tertutup dengan kabut-kabut doktrin gereja yang tidak bisa ditolak. Namun disisi yang lain pada era ini peradaban timur khususnya filsafat Islam justru mengalami perkembangan pesat pasca keberadaan dakwah agama Islam Nabi Muhammadi S.A.W.

Setelah era teologi barat berlangung mengalami kegelapan, akhirnya muncul kembali gerakan era baru dengan nama Renaissance yang muncul di Prancis dan Italia, Enlightment di Inggris dan Aufklarung di Jerman, abad ini adalah jawaban masalah dari era teologi (abad kegelapan) yang menuju pada era antropologi, yaitu pemusatan kembali pandangan dunia pada obyek yang bernama manusia. Pada pokok intinya abad ini disebut dengan kelahiran kembali titik fokus perhatian kepada diri manusia sebagai pusat kehidupan yang sebalumnya terhambat oleh otoritas kebenaran gereja, era inilah yang membawa manusia akhirnya bisa dengan leluasa kembali mengembangkan ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi, sehingga disebutlah abad ini dengan sebutan abad pencerahan manusia.

Dari perjalanan zaman tersebut jika dirangkum dari era mitologi (mitos dan dongeng), disusul dengan era teologi (ketuhanan dan agama), lalu menuju era antropologi (manusia) yang akhirnya melahirkan kebebasan diri manusia, dari belenggu abad-abad sebelumnya dan menemui berbagai kamajuan hidup, kemudahan hidup dengan berkembangnya ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi secara pesat, pertanyaan-pertanyaan penting selanjutnya apakah akhirya zaman harus berhenti pada titik pemusatan diri pada manusia (antropologi), apakah manusia yang ingin membebaskan diri dengan menguasai segalanya memang benar-benar akhirnya telah bebas?

Mengutip pendapat Adorno dan Marcuse suatu kritik seorang tokoh barat sendiri yang ditulis oleh Bertens (1983), ‘Alih-alih pecerahan memberikan emansipasi (pembebasan) bagi manusia, sains dan teknologi justru telah menjadikan manusia sebagai objek dari penguasaanya sendiri, rasionalitas abad ini kataya adalah rasionalitas teknokratis. Segala sesuatu dipandang dan dihargai sejauh dapat dikuasai, digunakan, diperalat dan dimanipulasikan, dan ditangani. Alam pandangan teknologis, instrumentalisasi merupakan suatu istilah kunci. Mula – mula cara berpikir ini hanya dipraktekkan dalam hubungan dengan benda, alam dan mesin – mesin yang diperalat dan dimanipulasikan, tetapi hal yang sama telah meluas diseluruh wilayah politik, sosial, dan budaya. (Abdul Rahmat, 2018: 173).

Adorno dan Marcuse juga telah telah lama menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi bisa menjadi pisau bermata dua, di satu sisi meningkatkan martabat manusia, tapi di sisi lain, melalui rasionalitas teknokratis, ia telah merendahkan manusia dengan salah satunya memunculkan permasalahan baru dengan bentuk pengrusakan lingkungan. (Abdul Rahmat, 2018: 174). Memang tepat sekali jika kita mampu merasakan kondisi lingkungan hidup disekitar kita sekarang ini, pemanasan global, perubahan iklim, momok sampah plastik, polusi udara, wabah penyakit, ketergantungan produk industri, budaya konsumtif, bencana banjir, kekeringan dan perampasan lahan dan ruang hidup, kerap menjadi resiko besar yang sewaktu-waktu hadir dengan leluasa dalam masyarakat.

Akhirnya benar cerita sejarah adalah cerita pengulangan, sebagaimana akhir harapan cita-cita kebebasan manusia yang kembali menjadi cerita mitos belaka, telah menemui kabut kegelapan dan masalah baru. Namun kembali jika kita koreksikan dengan sabda Rosulullah S.A.W dan juga pesan Khalifah Ali Bin Abi Thalib diatas, tentang tugas kita yang diharuskan mendidik genarasi sesuai dengan zamannya, tentu situasi ini bukan menjadi akhir dari segalanya. Cerita-cerita antropologi yang menguak tentang hal ikhwal kehebatan spesies manusia, akhirnya harus berlanjut pada cerita baru dengan problem-problem ekologi (interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya)yang telah mengancam kehidupannya sendiri. Harapan kebebasan manusia ‘mungkin’ harus digantikan dengan harapan keseimbangan kehidupan, kekuatan adikodrati alam pada era mitologi harus ditafsirkan kembali dengan arti yang baru, alam bergerak tanpa ingin menguasai manusia, alam mempunyai eko-sistem, sedangkan ego-sistem dimiliki oleh manusia. Saya kembalikan lain pendapat pada masing-masing pembaca yang budiman. Semoga bermanfaat!

*Ketua Komite Nasional Kader Hijau Muhammadiyah

Comments (6)

  1. Mengkonstruksi kepedulian thd ekologi bagian dari dakwah yg mencerahkan

Comment here