Opini

MOBIL MEWAH SEHARGA BUNGKUS PERMEN

Oleh Roni Tabroni

Saya suka sebel kalau ada mobil mewah di jalan raya, tiba-tiba dari dalamnya ada yang melemparkan sampah ke luar. Bisa plastik, kulit jeruk, tisu, atau apapun dan sekecil apapun.

Mereka menyangka masih berada di abad primitif atau di negara antah berantah yang bebas nyampah sembarangan. Beberapa kota besar sebenarnya sudah punya aturan tentang hal ini, tapi tidak pernah ada OTT pelempar sampah dari kendaraan mewah. Kalau OTT pembuang sampah ke sungai sih di Bandung pernah dilakukan.

Bisa dibayangkan apa yang dilakukan para penghuni kendaraan mewah itu sesaat dan setelah melemparkan sampahnya ke luar. Misalnya, ketika sang ayah santai memegang setir, sang ibu dan anaknya sibuk mengunyah-ngunyah makanan. Pas anaknya mau nyimpen sampah, kata si Ibu “eh kenapa buang sampah di sini, ini kan mobil mahal.”
Terus si anak bingung, “terus dikemanain bu?” Sambil bingung dan ketakutan.
“Ya lempar aja keluar!!”

Kebayang mimik anaknya yang kebingungan dan tegang. Mungkin dirinya merasa bersalah telah membuat orang lain tidak nyaman karena ulahnya. Tapi bentakkan orang tuanya lebih ditakuti.

Anak sekarang biasanya lebih kritis. Seringkali menanyakan hal-hal yang tidak diduga-duga. Jika anak tadi penasaran, dia akan bertanya:
“Mah, kenapa sih sampah tadi harus dibuang keluar? Kan itu bikin jalan jadi kotor?”
Mamahnya jawab “biarin di luar kotor tapi kita di sini tetap nyaman tanpa sampah,” katanya. “
“Tapi kan mah itu tu ga baik, kita harus buang sampah pada tempatnya?” Tanya anaknya lagi.
“Iya kan ini mobil, mobil tu bukan tempat pembuangan sampah. Jadi sampah itu buang ke luar nanti juga ada petugas yang mungut sampah,” jawab mamahnya.
“Kalau gitu mah kenapa kita ga beli tempat sampah aja yang kecil, simpen di mobil, kan ga bikin repot. Iya kan pah?” Kata anaknya.
“Iya nanti papah beli tong sampah deh biar kalian ga ribut,” kata ayahnya.
“Yah ini bukan masalah ribut, tapi masalah lingkungan, kalau kita buang sampah sembarangan terus bagaimana dengan masa depan bumi kita yah? Masa depan Ade masih jauh, kalau bumi nya dikotori dan dirusak terus, itu artinya masa depan Ade juga suram yah.” Semuanya terdiam.

Rupanya cara berfikir anak ini lebih kritis karena kesalahan orang tua yang selalu menginginkan anaknya lebih pintar. Makanya anak-anak akan selalu dimasukkan ke sekolah mewah, walaupun harganya selangit. Tetapi kalau sudah kritis kadang orang tua pun tidak berkutik.

Jangankan anak yang sudah besar, anak TK pun saat ini sudah pinter ngajarin orang tuanya. Misalnya obrolan orang tua di dalam angkot sehabis menjemput anaknya dari sekolah TK.
“De kamu gerah ya?” Kata ibunya sambil mengikat rambut anaknya.
“Iya mah, dan ade laper mah,” kata anaknya.
“Ya ampuun.. mamah kan ga bawa makanan. Cuma ini ada permen, ade mau ga?”
“Mau mah, ga apa-apa”
Setelah membuka permen, ibunya memberikan permen itu pada anaknya kemudian membuang bungkusnya di dalam angkot.
Spontan sang anak membalikkan wajahnya kepada ibunya.
“Kenapa de?” Kata ibunya.
“Mah kenapa bungkus permennya dibuang?”
“Ya dibuang donk De, masa mau dimakan?” Kata ibunya sambil tertawa.
“Bukan gitu mah, ya bungkusnya jangan dibuang sembarangan, mening masukkan ke tas. Kalau dibuang sampah sembarangan tar kita kerendem banjir lho mah.”
“Heh.. kamu ini gimana sih, disekolahkan bukannya pinter malah ngomong kaya gitu. Masa aja buang bungkus permen kita jadi kerendem banjir.”

Si anak itu diam. Mungkin dia bingung bagaimana menjelaskan argumentasi rasional dari perbuatannya itu. Anak TK pembicaraannya terlalu tinggi hingga ibunya ga paham, dan dirinya pun tidak bisa menjelaskan. Mungkin diam lebih baik bagi anak mungil itu, sambil menunggu waktu dimana ibunya akan mengerti sendiri apa yang disampaikannya, ketika suatu saat kotanya banjir bandang karena banyaknya sampah yang memadati gorong-gorong.

Banjir bukan hal aneh bagi masyarakat kota, bukan hanya proyek drainase yang buruk tetapi juga ulah manusia dewasa yang suka membuang sampah sembarangan.

Masih mending ada manusia seperti Mang Uha di Bandung yang rela masuk ke gorong-gorong yang bau busuk, sehingga saluran air menjadi lancar kembali. Tetapi jika Uha itu tidak ada, mungkin masyarakat kota akan sibuk mengeluh karena banjir saat hujan, tetapi tidak sadar perbuatannya yang menyebabkan banjir. Dan kedua anak tadi mungkin akan berkata “nah paham kan Mah, apa kata Ade, akhirnya banjir kan.”

Comments (2)

  1. Pembiasaan harus dimulai dari rumah, sedini mungkin.
    Haturnuhun…sebuah tulisan yang hangat di awal 2020 yang dingin.

Comment here