Opini

Nasib Petani Miris di Negeri yang Katanya Agraris

Oleh : Muhammad Rusydi Arif*

Ayah saya adalah seorang guru swasta yang juga bertani. Sebagai anak petani saya cukup tahu susah senangnya dunia pertanian. Saya cukup beruntung terlahir di keluarga yang cukup melek pendidikan dan memiliki penghasilan lain selain dari sektor pertanian, sehingga saya dapat melanjutkan ke pendidikan tinggi. Rata-rata tetangga saya mengenyam bangku sekolah hanya sampai tingkat SMA atau SMK saja. Tentu hal ini dikarenakan faktor ekonomi masyarakat yang dominan bekerja sebagai petani.

Berbicara tentang penghasilan petani, hal yang pasti adalah ketidakpastian. Ada kalanya penghasilan setara dengan UMR Kabupaten/Kota yang mana banyak dikeluhkan, tetapi bagi petani itu adalah hal yang cukup membahagiakan. Ada kalanya juga penghasilan yang didapat dari hasil panen harus membuat gigit jari, mengingat tenaga yang perlu dikuras untuk merawat tanaman dari tanam hingga panen.

Musim panen padi yang berlangsung selama sebulan ini mungkin dapat menjadi salah satu contohnya. Sebagaimana diketahui bahwa padi adalah tanaman yang ditanam selama musim hujan, rentang waktu tanam hingga panen berkisar 100 hari. Padi perlu mendapat asupan air terus-menerus agar tidak kering dan dapat tumbuh dengan optimal. Oleh karena itu musim hujan menjadi waktu yang paling tepat untuk menanam salah satu tanaman penghasil makanan pokok orang Indonesia ini.

Sebagai contoh di daerah saya, musim tanam padi tahun ini memang dimulai pada curah hujan yang cukup baik. Harapan besar pun ikut tertanam di pikiran para petani ketika bibit padi juga mulai tertanam di sawah mereka. Akan tetapi harapan itu mulai sirna ketika kisaran 10-15 hari setelah musim tanam padi. Bulan Oktober–April yang seharusnya adalah musim hujan berubah menjadi musim petaka bagi para petani. Curah hujan sangatlah kecil bahkan hampir tidak hujan sama sekali. Alhasil petani harus mengairi sawahnya secara manual menggunakan pompa sawah. Hal ini dilakukan setiap hari selama setidaknya 70 hari. Kerugian panen semakin menghantui mengingat banyak petani yang sampai merogoh kocek sekitar dua sampai tiga juta rupiah hanya untuk membeli bahan bakar pompa sawah mereka.

Hal yang ditakutkan benar terjadi. Ketika musim panen tiba, padi kering milik petani hanya dihargai empat ribu hingga lima ribu rupiah untuk satu kilogramnya. Mungkin banyak yang masih bingung karena harga beras di pasaran berkisar sembilan ribu hingga sepluh ribu rupiah per satu kilogram. Jadi begini, petani menjual hasil panennya ini ke pengepul terlebih dahulu yang entah ada berapa tingkatan pengepul dalam mata rantai dari petani hingga ke pasar. Pada setiap mata rantai tersebut, harga akan mengalami kenaikan karena masing-masing pengepul tersebut tentu mengambil keuntungan. Lantas timbul pertanyaan lagi, mengapa petani tidak menjual langsung kepada konsumen atau pasar? Hal ini dikarenakan petani tidak mempunyai akses ke pasar, selain itu petani juga tidak mempunyai fasilitas, transportasi, maupun biaya untuk mengorganisir kegiatan pemasaran secara mandiri.

Jika anda membaca sampai paragraf ini dan merasa nasib petani sudah sangat miris, maka anda masih belum tepat, kemirisan ini masih bisa berlanjut. Bagi petani yang memiliki tanah sendiri untuk bertani mungkin masih bisa bernafas lega di tengah kesesakan harga panen yang mencekik ini. Akan tetapi bagi petani yang bahkan untuk bertani harus menyewa tanah miliki orang lain, hal ini merupakan hal yang teramat sangat pedih. Dengan hasil panen yang tidak seberapa atau bahkan rugi, mereka masih harus membayar sewa tanah untuk lahan pertanian mereka.

Cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu faktor dalam kerugian panen para petani ini. Ya, perubahan iklim memang sedang terjadi dan akan semakin memburuk. Emisi yang dikeluarkan oleh sektor industri, khususnya yang menggunakan bahan bakar fosil seperti batubara sebagai bahan bakar utamanya, menjadi salah satu faktor yang semakin memperburuk kondisi iklim bumi. Nyata sekali kita lihat, petani merugi dikarenakan perubahan iklim yang bukan dimulai oleh mereka. Bahkan mereka tidak mendapat sepeser keuntungan pun dari industri-industri yang berkontribusi ‘menyukseskan’ kemelaratan para petani tersebut.

Kepedihan yang dirasakan oleh para petani ini akan terasa lebih pedih lagi jika mengingat pemerintah kita yang terus menerus impor beras. Memang benar, impor beras ini bertujuan untuk menstabilkan harga beras di pasaran dan untuk menjaga ketahanan pangan. Tetapi jika kita kembali menengok kasus 20 ribu ton cadangan beras milik Bulog yang direncanakan akan dimusnahkan di akhir tahun 2019, rasanya memang ada yang salah dari perhitungan pemerintah. Tidak mungkin jika hal ini tidak disadari pemerintah sebelumnya, mengingat negeri kita tidak kurang dalam memiliki pakar-pakar ketahanan pangan yang kompeten. Ya semoga saja bukan karena adanya oligarki pangan yang ‘bermain’ di sana. Karena hal ini akan sangat membuat keringat petani semakin tidak ada harganya.

*Mahasiswa D4 Teknik Pengolahan Limbah Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.

Editor :Yulianto Adi Nugroho
Ilustrator : Rizal Fahmi

Comment here