Opini

TAUBAT HIJAU : MASIHKAH ADA WAKTU?

Oleh : Iman Permadi

Pertama-tama, mari kita bersyukur pada Allah yang telah mencipta alam semesta selama 6 masa, yang tak perlu menancapkan satupun pasak/tiang penyangga untuk menyeimbangkan antara Bumi dan langit, yang dengan kuasa EkologisNya, tiada kesulitan sedikitpun untuk memelihara keberaturan semesta. Tapi apakah KuasaNya hanya mampu mencipta seluruh alam dan seisinya harus menempuh waktu selama 6 massa? Tentu tidak. Jika saja Tuhan menghendaki untuk menjadikan semua itu hanya dengan sekedipan mata, maka jadilah. Tetapi nampaknya dengan konfigurasi penciptaan 6 masa itu, menjadi stimulasi manusia agar dapat berpikir dengan penuh kesadaran. Bahwa “proses” yang sengaja dikehendakiNya itu harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh umat manusia agar tidak tergesa-gesa dalam semua tindakan. Berhati-hati, dan bersabar dalam segala proses. Selanjutnya menyerahkan semua hasil segala proses padaNya. Maka kemudian yang menjadi utama adalah mensyukuri hasil terbaik yang Diberikan sesuai ukuranNya.

Dalam hal proses penciptaan alam semesta oleh Tuhan, mensyukuri hasil dari sebuah proses tersebut adalah menjaga alam semesta dengan penuh cinta.

Islam adalah agama amaliyah. Titik tekan dari ajaran Islam adalah amal perbuatan. Pun juga yang menjadi penentu seorang hamba bisa selamat atau menderita di akhirat. Maka, konsekuensi mengamalkan ajaran Islam melalui perbuatan adalah mutlak. Meski tak semua kategori amal itu baik, tapi menjaga alam dengan penuh cinta adalah bagian dari kebaikan dan jalan keselamatan. Sebaliknya, merusaknya adalah jalan kesesatan yang akan berbuah penderitaan.

Sulit bahkan bisa jadi tidak mungkin, umat manusia mampu menghitung berapa banyak pelanggaran dan dosa ekologis yang sudah dilakukan selama ini. Apalagi didukung oleh Ecology behavior yang sebagian besar umat manusia miliki selama ini-yang justru bertolak belakang dengan sifat Ekologis Tuhan, hingga menjadi sebab akan semakin parahnya keadaan Bumi. Jika nilai, ajaran, dan sifat Tuhan yang Maha Ekologis tidak segera di amalkan oleh umat manusia di usia Bumi yang semakin renta ini, maka tidak akan ada lagi jalan keselamatan selain memilih jalan “pertaubatan ekologi secara massal”. Jika saja umat manusia terus melanggar hukum alam yang Tuhan telah ciptakan, maka yang terjadi adalah tidak akan ada lagi keteraturan kosmos, dan pasti mengakibatkan kekacauan.

Taubat hijau adalah puncak kesadaran muhasabah atas pengakuan dosa-dosa ekologis yang disengaja atau tidak. Merupakan momen transisi perubahan kebiasaan buruk terhadap lingkungan menjadi kebiasaan baik yang mendukung kesehatan/kelestarian lingkungan. Momen perpindahan habits tersebut bisa kita sebut dengan istilah yang cukup popular pada awal abad 21 yaitu Hijrah. Dalam tradisi Islam, hijrah tidak hanya memiliki arti perpindahan. Tapi juga mengandung spirit aktivitas kenabian. Spirit hijrah yang terjadi pada zaman kenabian tentu bukan menjadi penanda sebuah pertaubatan. Akan tetapi, menjadi penanda ketaatan atas perintah Tuhan. Spirit ketaatan itulah yang kemudian menjadi titik temu antara makna hijrah pada zaman kenabian dengan makna hijrah pada saat ini. Buah dari pengakuan umat manusia atas dosa-dosa ekologi yang telah lalu adalah melakukan hijrah pada perilaku kita yang sebelumnya melakukan kebiasaan yang non-ekologis menjadi ekologis.

Islam mendukung kemajuan dan keseimbangan. Tidak pada pembinasaan dan pengerusakan. Seringkali “insting hewani” kita mencari-cari perilaku kekafiran yang dilakukan oleh orang lain. Tapi kita tidak sadar, bahwa perilaku pengerusakan alam yang kita lakukan selama ini adalah bentuk kekafiran kita paling yang nyata.

Tidak menggunakan bahan-bahan plastik (kantong belanja, sedotan, bungkus makan, dlsb) satu kali pakai adalah bentuk ketaqwaan. Mensterilkan air laut dan pantai dari sampah dalam bentuk apapun adalah bagian dari kesalehan ekologi. Menanam pohon juga turut membantu memperpanjang usia Bumi dan napas makhluk hidup. Tidak menggunakan Sumber Daya Alam yang berlebihan adalah menjauhkan diri dari sifat istiraj, ghulluw, dan tasrif yang mana akan membawa kemurkaan Tuhan.

Akan tetapi, seandainya saja Tuhan berkehendak untuk menjadikan seluruh umat manusia menjadi makhluk ekologis, tentu tiada kesulitan sedikitpun bagiNya. Tapi nyatanya, Tuhan tak berkehendak demikian. Karena menjadi makhluk ekologis atau tidak, itu pilihan.

Comment here