Tokoh Hijau

Belajar Memperpanjang Usia Perjuangan Lingkungan dari Rammang-Rammang

Merawat Perjuangan Lingkungan ala Muhammad Ikhwan

Kaderhijaumu.id – Tulisan ini merupakan hasil obrol-obrol dengan seorang pelestari lingkungan dari kawasan kars Maros, Kabupatenn Rammang-rammang, Sulawesi Selatan. Muhammad Ikhwan, Iwan Dento, atau Bang Dentos biasa dipanggil.

Namanya tidak asing lagi dalam dunia konservasi. Baru-baru ini ia dianugerahi Kalpataru 2023 karena kegigihannya yang sudah tidak diragukan lagi dalam menjaga karst Maros. Geliat gerakannya bukan baru dikerjakan satu atau dua tahun. Pun sudah banyak makan asam garam perjuangan lingkungan.

Perbicaraan ini kami lakukan via online untuk menindaklanjuti diskusi yang sudah berjalan sebelumnya. Maka, maklumlah apabila isi pembicaraan ini seperti melompat tanpa pembukaan. Pun, tulisan ini tidak lepas dari penyuntingan isi pembicaraan yang cocok untuk dimasukkan dan supaya enak dibaca.

Obrolan ini dimaksudkan untuk menggali praktik baik dalam memperpanjang usia gerakan lingkungan. Mengingat hari-hari ini desakan pembangunan telah merangsek cepat dan masif ke ruang-ruang hidup warga desa, sedangkan dampak dari sana tentu saja akan menciptakan kerusakan lingkungan.

Maka, penguatan warga sipil untuk bisa mempertahankan hak ruang hidup menjadi mutlak adanya. Namun, penguatan itu pun tidak bisa berjalan tanpa ‘amunisi’ yang cukup, baik pemahaman politik, hukum, sampai isi perut. Di sini bang Dentos akan berbagi sebagian pengalamannya dalam menjaga usia panjang perjuangan melestarikan lingkungan.

Bang Dentos ini kan dikenal sebagai penggerak konservasi karst, pelestari air, sampai pengelola desa wisata. Jadi, masuknya program pelestarian karst dari mana?

Karst ini kan manajemennya lintas sektor. Jadi, kalau mau berjuang sebenarnya bisa banyak bidang yang disasar. Kalau saya memanfaatkan ruang-ruang itu. Kalau mau menyasar soal air, bisa ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Kalau soal hutan, flora, dan fauna, ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Terkait potensi bahan baku, menyasarnya ke ESDM. Tapi semua itu ujungnya juga ke tata ruang kabupaten. Jangan main di satu kementerian!

Kita (Bang Dentos dan kawan Rammang-rammang, pen.) lebih banyak main terobos.

Maksudnya main terobos?

Maksudnya “terobos”, kalau kita tidak bisa mengusahakan koordinasi dengan pemerintah daerah yang kenyataannya lebih dekat, maka menerobos ke atas. Dengan mendekat ke pemerintah yang ada di tingkat pusat dulu (lingkungan kementerian, pen.).

Kita (memanfaatkan, pen.) pressure-nya dari atas ke bawah [maksudnya dari pemerintah pusat ke kabupaten]. Kalau pemerintah kabupaten ya susah diajak. Banyak kebijakan pusat yang mereka tidak tahu, misal Permen ESDM tentang karst itu.

Tapi, kalau tekanannya dari pusat, paham tidak paham akan dikerjakan oleh mereka. Syukurlah, hari ini kondisinya sudah mulai membaik, sekarang mau tidak mau mereka harus paham. Misalnya, soal Geopark.

Dalam urusan Geopark ini, (contohnya, pen.) aspek-aspeknya kan terdiri atas geoheritage, geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity. Itu data-datanya harus kita yang kuatkan.

Lalu, dalam pergerakannya, jadi, saya itu lebih fokus ke satu ruang (baca: bidang pekerjaan). Menyelesaikan (satu bidang, pen.) situ dulu. Meskipun dalam perjalanan saya, tidak sesederhana itu. Namun, tetap fokus!

Ini tidak seperti teman-teman NGO yang hanya tertarik pada kasus (sering kali malah tidak diselesaikan dan tidak melihat interelasi antarkasus, pen.). (Misalnya, kalau NGO yang hanya fokus pada perlawanan tambang saja, ya itu saja, pen.) bukan pada pemulihan hidup, apalagi membuat ekonomi tandingan.

Saya ini bergerak sendiri saja. Tapi harus ada ruang belajar. Harus ada ruang belajar yang selesai, misalnya yang sudah saya lakukan bidang advokasi dan ekonomi alternatif. Saya fokus pada satu lokus saja. Kalau keluar, itu cuma untuk menemui local champion di daerah lain.

Maksud local champion tuh gimana, bang?

Baiknya, perlawanan dimulai dari local champion dulu. Itu yang mau bergerak atas nama kampungnya. Nah, kalau digerakkan dari luar, itu kecenderungannya program. Dan kita (Bang Dentos dan kawan-kawannya) meninggalkan yang model itu. Bukan berarti juga melepaskan jaringan.

Harus ada alternatif; alternatif gerakan dan alternatif ekonomi. Masalahnya ekonomi ini. Inilah yang harus dipenuhi. Tugas kita memenuhi opsi ekonomi rakyat, tapi tidak merusak. Selama ini kan begitu.

Iya sih, di NGO enak saja mereka bikin satu program karena ada asupan dana, tapi mereka ini tidak memikirkan secara keseluruhan sumber ekonomi rakyat [ini agaknya mengkritisi pola kerja NGO yang bergerak di advokasi, yang menolak tambang saja tapi tidak memberi sumber ekonomi]. Misal, ketika kita bilang berhenti menambang, tapi kan ekonominya gimana.
Ekonomi alternatif ini yang harus dimunculkan! Ekonomi tanding!

Dari awal aktivitas di Rammang-Rammang sudah berproses pada bidang ekonomi alternatif ini?

Pasca advokasi tahun 2013, setelah 6 tahun advokasi. Saya berpikir, kalau tidak ada alternatif, maka masyarakat akan kembali menerima tambang. Misal, di Tohpati, yang muncul adalah konflik sosial karena ada beberapa masyarakat yang menerima tambang karena alasan ekonomi.

Misalnya begini, ada muncul isu ada capres yang dibiayai perusahaan tambang. Itu kan karena kita tidak mampu membiayai (dana kampanye, pen.) mereka. Kita juga tidak mampu mendorong orang kita untuk naik (ke kontestasi politik, pen.). Ini pertarungan ruang kapitalis dan idealis.

Kegagalan kita tidak mampu membangun ekonomi tanding yang bisa membiayai politik [atau representasi politik dari pihak kita yang] berpihak pada kita, di situ menurutku.
Karena aku tidak bisa kuasai kabupaten, maka aku di desa, di desa kan juga ada politik desa. Kenapa aku fokus di desa? Minimal kuasai desa. Kalau belum bisa skala kabupaten, maka mulai dari skala kecil. Dari dulu mulai dari desa, lalu membuka jaringan. Justru awalnya “melompat” ke kementerian.

Maksudnya “melompat” ke kementerian?

Begini, perumpamaannya, di sekolah ada dua jalur beasiswa, satu jalur tidak mampu dan jalur prestasi. Saya membuka jalan ke kementerian jalur prestasi. Saya memaksakan diri mendapatkan pengakuan. Jadi, berusaha tampil di ruang publik secara nasional. Pengakuan publik (pengakuan dari kementerian, pen.) itu yang kemudian mem-pressure ke bawah; ke kabupaten.

Kemudian, di banyak kesalahan kita, kita hampir melihat seluruh pemerintah “musuh”. Padahal sebagian dari mereka kita butuhkan untuk proses perlawanan dari dalam. Paling tidak bisa membocorkan kita informasi, sehingga pola berlawan ditutup.

Makanya, kalau liat pola saya, apakah saya membangun gerakan sosial atau struktural (seakan-akan tidak bisa terbaca, pen.)? Karena saya fleksibel. Kalo ketemu politisi, ya pakai bahasa mereka. [Melakukan hal tersebut] karena ada beberapa informasi yang tidak akan keluar kalau kita dianggap lawan (mendekati dan menjadi bersahabat dengan pemerintah, pen.).

Kembali soal ekonomi tandingan, sektor yang digarap pertama itu pariwisata atau pertanian?
Ke pariwisata. Di pariwisata ini yang kita kejar pertama adalah jumlah orang. Jadi semakin banyak orang, paling tidak, semakin banyak yang berempati ke kita.

Kedua, soal ekonomi masyarakat. Jadi, pariwisata adalah konsep berlawan. Semakin banyak yang datang ke lokasi Rammang-Rammang, saya akan punya banyak teman dan empati. Gini saja, sebenarnya kan tidak semua orang senang tambang, hanya saja mereka ini tidak menolak karena tidak punya informasi konkret di lapangan (makanya, perlu lebih banyak yang datang untuk melihat langsung supaya berempati dan mau berjejaring dalam perjuangan, pen.).

Sama kalau kita bicara sungai, kenapa dianggap bermasalah? Karena selama puluhan tahun kita meninggalkan sungai. Industrialisasi ini kan ke mana-mana, di banyak kasus, kita meninggalkan sungai sebagai ruang hidup. Di beberapa diskusi, mengatasi sungai itu sederhana, mengembalikan ruang hidup. Mendorong kegiatan ke sungai sebagai ruang hidup. Mau naik perahu, nangkap ikan, dll.

Selama ini sungai dilihat sebagai ruang kosong, karena kan gitu. Makanya, sampah turun ke sana. Sama misalnya ada yang bilang, sungai tidak bisa ditempati mandi. Pertanyaannya, kapan terakhir kamu mandi di sungaimu? Kalo mandi di sana kan kau tidak buang sampah di sana.
Justru lebih banyak mengevaluasi ke saya, bukan ke lawan (maksudnya, kalau ada perubahan sikap di masyarakat, bukan salahkan lawan, tapi selalu introspeksi diri, pen.). Bukan sisi negatif orang yang berlawan, tapi “apa yang salah dari saya”, “apa yang salah dari masyarakat”.

Misal, ketika kita menentang tambang, biasanya akan bilang, “Kita tidak butuh semen, bisa bertani.” Mungkin iya (pernyataannya disampaikan, pen.), tapi dari beberapa keluarga saja. Tapi kita tidak bisa pastikan kesejahteraan satu daerah juga kan? apakah cukup sejahtera hanya dengan pertanian? Pada akhirnya kan kita seperti memaksa mereka melawan.

Dan hari ini kita (NGO atau gerakan lingkungan, pen.) kalau bicara ke masyarakat, kecenderungannya kan (memaksakan, pen.) kemauan kita, “Bapak harus begini, begini!” Jarang kita tanya, “Bapak maunya apa?” Itu kan rata-rata kan isi kepala kita, kita minta ke orang untuk kerjakan.

Kontributor : Yayum Kumai pegiat KHM Yogyakarta.

Show More

Kader Hijau Muhammadiyah

Kader Hijau Muhammadiyah (KHM) | Platform Gerakan Alternatif Kader Muda Muhammadiyah dalam Merespon Isu Sosial-Ekologis #SalamLestari #HijauBerseri

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button