OpiniTokoh Hijau
Trending

Ekoteologi Pertanian: Suatu Pemikiran Awal (5)*

Dari sini jelas terlihat, bahwa merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak adalah perbuatan yang tidak disukai Allah, dan bahwa binatang ternak itu manfaatnya banyak sekali, tidak sekadar untuk dimakan dagingnya. Salah satu manfaatnya yang besar bagi para petani adalah kotorannya, baik yang padat maupun yang cair.

Muhammadiyah melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) enam tahun terakhir ini gencar mengkampanyekan sekaligus mendampingi petani untuk beralih ke model pertanian yang dikembangkan nenek moyang tapi sekarang sudah mulai dianggap moderen ini. Basis pemberdayaanmya adalah jamaah/kelompok tani, dengan mengandalkan integrated farming. Tentu saja, karena sebagian besar petani yang didampingi adalah petani yang memiliki lahan sempit, maka bentuk jamaah/kelompok menjadi sangat penting.

Kepada para petani sembari bergurau dikatakan, saatnya jamaah/kelompok tani membangun ’pabrik pupuk’ sendiri, tidak perlu tergantung dengan pupun kimia (sintetis). Yang disebut ’pabrik pupuk’ itu sebenarnya sederhana saja: kambing atau sapi milik kelompok dikandangkan sehingga kotorannya, baik padat maupun cair dapat diolah menjadi pupuk. Teknologinya tentu sederhana, disesuaikan dengan kondisi petani kita pada umumnya. Pakan ternak dan ikan tambak atau kolam pun demikian.

Tentu tidak mudah merubah pola tanam petani yang sudah sedemikian lama tertanam dalam memori mereka. Semuanya harus berjalan dengan pendampingan yang kontinyu. Sangat dituntut kesabaran para fasilitator yang mendampingi para petania, peternak, dan nelayan tambak.

Tapi persoalan tidak berhenti sampai budidaya pertanian saja. Sebagaimana dikatakan di bagian lain makalah ini, persoalan yang dihadapi para petani itu luar biasa kompleksnya. MPM membatasi diri untuk sementara masuk pada empat ranah aktivitas untuk sekedar membantu para petani memecahkan masalah mereka, yaitu, pertama, budidaya pertanian dengan memperkenalkan model integrated farming, yang biasanya oleh MPM disebut ’pertanian ramah lingkungan’; kedua, pengolahan hasil pertanian, peternakan, dan perikanan; ketiga, pemasaran hasil pertanian maupun produk olahan; dan yang keempat, yang tidak kalah pentingnya, adalah advokasi kebijakan publik yang merugikan petani, peternak, dan nelayan tambak.

Sayang, usaha besar ini belum merata di seluruh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM). Hanya sekitar separuh dari PWM yang telah memberi perhatian serius bagi masalah pertanian yang ramah lingkungan ini. Padahal salah satu kosekuensi dari perbincangan tentang ekotelogi pertanian ini adalah usaha sungguh-sungguh ntuk mengembangkan model pertanian yang ramah lingkungan.

Khatimah: Pergeseran Peta Global ke Cina

Sudah jelas al-Qur’an menegaskan kepada kita bahwa segala apa yang ada di muka bumi ini deperuntukkan bagi memakmurkan manusia. Akan tetapi manusia mempunyai kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan, termasuk memelihara segala isi alam ini termasuk tanaman dan binatang.

Bagi Indonesia, dunia pertanian, peternakan, dan perikanan, masih mengandalkan penggunaan pupuk dan pakan kimia (sintetis) termasuk pestisida dan sejenisnya. Hal ini lambat laun akan mengganggu kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan itu sendiri.

Sekarang saja sudah bisa kita lihat di mana-mana terjadi gagal panen. Ada petani yang sampai membakar tanamannya, karena sudah tidak produktif lagi. Padahal modal untuk membeli pupuk kimia (buatan) dan pestisida sudah sangat besar. Bahkan dapat ditemukan di berbagai tempat, petani terpaksa menjual rumahnya untuk menutup kerugian akibat gagal panen.

Keadaan ini kalau dibiarkan terus akan membawa masalah pangan yang serius bagi kita. Sekarang saja kita sudah mengimpor segala macam bahan konsumsi. Beras, sapi, daging, kacang kedele, buah-buahan. bahkan garam, sudah kita impor.

Dalam kondisi pertanian, peternakan, dan perikanan kita yang masih morat-marit seperti ini pemerintah Indonesia bersama pemerintah negara-negara ASEAN lainnya telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas ASEAN dengan Cina (CAPTA), dan mulai berlaku efektif beberapa tahun yang akan datang.

Sebelum perjanjian ini diberlakukan secara penuh saja kita sudah melihat mengalirnya buah-buahan dari Cina ke Indonesia, yang menggusur produk buah-buahan lokal. Khusus untuk produk pertanian dari Cina, penguasaan pangsa pasar terjadi begitu luar biasa. Kementerian Pertanian mencatat defisit perdagangan buah-buahan kita mencapai 600 juta dollar AS, sepanjang tahun 2010.

Menteri Pertanian RI menjelaskan, perdagangan produk pertanian Indonesia-Cina mengalami defisit parah, utamanya sejak 2010. Menurut data dari Kementerian Pertanian RI, pada 2005 impor buah-buahan Indonesia sekitar 413.410,6 ton, senilai US $. 234,07 juta. Sedangkan pada 2010 menyentuh angka 601.965,0 ton seniali US $. 591,68 juta (Mbahwo.com).

Produk sayur kita juga mulai tergusur oleh produk Cina, sedangkan beras mulai terdominasi oleh beras Vietnam. Bahkan baru-baru ini ditemukan adanya impor ikan air tawar dari Cina. Tragis.

Dalam kondisi seperti pemerintah perlu melakukan berbagai kebijakan dan regulasi yang bertujuan melindungi para pelaku usaha di Indonesia. Mengingat, UKM dan pasar tradisional merupakan dua kelompok yang kini terancam dengan membanjirnya produk China ke Indonesia.

Hari sudah tinggi untuk menunda ini semua. Jika pemerintah tidak menyiapkan ini secara baik, maka sudah bias kita bayangkan kehidupan petani, peternak, nelayan, dan UKM kita di masa depan. Wallahualam.

*) Disampaikan dalam Seminar Nasional Transformasi Teologi dan Reaktualisasi Etos Kerja Islam Sebagai Respons terhadap Pergeseran Peta Geoekonomi, Geopolitik, dan Geobudaya Global ke Cina, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Kampus UMY, 7 Agustus 2011.

**) Penulis adalah Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pengasuh Pesantren Budi Mulia, Staf Pengajar FAI UMY, Pemimpin Redaksi Jurnal Media Inovasi.


DAFTAR BACAAN

Fachruddin M Mangunjaya, Hasan Heriyanto, Reza Gholami. Menanam Sebelum Kiamat; Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007.

Fachruddin M Mangunwijaya. Hidup Harmonis dengan Alam. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006.

John Perkins. Alih bahasa, Wawan Eko Yulianto dan Meda Satrio. Membongkar Kejahatan Jaringan Internasional. Jakarta: UFUK PRESS, 2009.

Lembaga Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Teologi Lingkungan: Teologi Pengelolaan Lingkungan dalam Perspektif Islam. Yogyakarta, 2008.

Bayu Krisnamurthi, www.ekonomirakyat.org, 2003.

Dian Maya Safitri, niamchomsky.wordpress.com, 2011. Titik Adianingsih, www.google.com, 2008.

Timpakul, www.sarekathijauindonesia.org, 2007.

Umar Said, 7junipers.com

Mbahwo.com.

www.quranplash.com.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button