OpiniUncategorized

Fiksi, Bumi dan Pandemi

Oleh : Asratillah

Akhir-akhir ini kita seakan-akan lelah berdebat, berdiskusi, memberi masukan atau mengikuti perkembangan tentang “apa yang mesti dilakukan” oleh negara dalam menghadapi pandemi covid-19. Mulai dari kritik beberapa pihak kepada tak terkoordinasiny pemerintah, terlambatnya penetapan status “darurat kesehatan”, hingga protes dari beberapa pegiat masyarakat sipil tentang berlebihannya opsi “darurat sipil” dari pemerintah. Menurut kacamata studi geopolitik dan geostrategi, negara adalah entitas yang memiliki sumber daya terbatas, dan tak akan mampu (bila pun mau) melakukan kebijakan secara habis-habisan (tous asimuths). Negara mesti fokus pada mobilisasi sumber daya untuk sasaran yang spesifik dan prioritas.

Mungkin yang membuat kita cemas dan lelah adalah “fiksi” kita akan negara. Negara kita tempatkan sebagai “representasi Ilahi” dalam teritori tertentu, yang kita harapkan “maha bisa” mengurus kebutuhan warga negaranya, “maha baik” dalam memenuhi kebutuhan pangan-kesehatan-pendidikan, dan “maha peng-hisab” dalam menghukum pelaku pelanggaran. Tapi dalam situasi-situasi darurat kita bisa melihat keterbatasan negara. Tidak ada satupun negara yang merasa “mampu mengatasi sendiri dengan cepat dan tuntas”. Tidak ada satupun warga negara yang tak mengeluh akan lambat dan “asal-asalannya” penanganan yang dilakukan oleh negara.

Dalam kasus covid-19 di Indonesia, kita tiba-tiba melihat bagaimana negara tidak bisa memenuhi kebutuhan peralatan medis, lambat dalam menyediakan fasilitas kesehatan bagi pasien-pasien yang jumlahnya semakin membludak. Kita menyaksikan bagaimana negara terkadang tidak bisa menghadapi para penimbun masker dan hand-sanitizer, para spekulan harga, dan aparat pemerintah yang tak mengikuti protokol yang ada. Negara maha bisa adalah fiksi.

Sumber kelelahan kita bukan hanya fiksi kita tentang negara, tetapi juga fiksi kita tentang agama. Agama yang kita bayangkan adalah sesuatu yang rigid dan tetap dalam situasi apapun, ternyata memperlihatkan fleksibiltasnya. Salat jumat (yang konon bisa membuat kufur jika meninggalkannya beberapa kali) tiba-tiba ditiadakan dan digantikan dengan salat zuhur. Redaksi azan pun berubah. Begitu pula dengan ritual ibadah di gereja dan pura, terjeda rutinitasnya. Fiksi kita bahwa “agama hanya berurusan dengan dunia setelah kematian” ternyata tak bisa lepas dari dinamika dunia saat ini. Bahwa “agama kedap akan konteks” ternyata “tidak bisa terlepas dari konteks”. Kita kaget dan lelah melihat fleksibilitas ini.

Tapi mungkin, jika situasi darurat berlalu, fiksi kita tentang negara dan agama akan kembali seperti semula. Kita kembali menuntut negara agar bisa “segalanya, dan kita pun akan ngotot soal pegangan teologis kita masing-masing yang kaku. Tapi ini bukan berarti fiksi adalah hal yang buruk. Fiksi membuat manusia dapat bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya jauh lebih efektif ketimbang spesies lain. Fiksi bahkan dapat membangun komunitas sosial yang jumlahnya ribuan hingga milyaran individu, berbeda dengan spesies Babon dan Gorila (yang secara genetik mirip dengan manusia) yang hanya bisa membuat kelompok maksimal 150 individu.

Lalu bagaimana fiksi kita tentang planet bumi?

Sampai saat ini, diakui atau tidak, dalam “ruang imaji” kita masih melihat bumi secara antroposentris. Kredo utama kita adalah “bumi dan segala apa yang ada padanya ditujukan untuk kepentingan sepihak manusia.” Jika kita merujuk Arne Naess dan deep ecology movement-nya, fiksi kita tentang bumi perlu digeser ke yang bersifat ekosentris, yang kredonya berbunyi: “Manusia adalah bagian dari bumi, sama dengan entitas biotik dan abiotik lainnya, dan saling terhubung.” Deep Ecology menantang kita agar relasi kita dengan alam tidak instrumental. Pertanian modern seperti pestisida untuk hama dan herbisida untuk rumput liar atau disinkfektan untuk membunuh virus, hanya untuk mengejar laba atau keselamatan manusia tanpa mempertimbangkan efek jangka panjang terhadap air-tanah-udara harus diubah.

Saya teringat dengan perbincangan dengan seorang guru di kampung, yang wawasannya cukup luas, tentang covid-19. Dia tiba-tiba mengatakan sesuatu dalam bahasa bugis dan dengan kesan agak mistis, bahwa virus ini adalah fenomena “nabissai alena lino e.” Dunia sedang membersihkan dirinya. Walaupun pesan mistik bugis ini punya banyak arti, tetapi tampaklah bahwa bagi orang bugis, bumi punya kesadaran dan bisa mengambil “inisiatif” untuk dirinya sendiri.

Kalimat itu mengingatkan saya teringat pada tokoh mitos Yunani bernama Gaia. Ia adalah personifikasi Bumi dan berjenis kelamin perempuan. Nama Gaia ini kemudian dijadikan oleh James Lovelock, seorang environmentalis, sebagai nama hipotesis kontroversial yaitu “Hipotesis Gaia”. Hipotesis ini mengandaikan Bumi sebagai organisme tersendiri, dengan kesatuan hidup antara biosfer, atmosfer, kriosfer, hidrosfer dan litosfer yang saling berinteraksi menjaga iklim dan bio-geokimia bumi tetap seimbang. Lovelock dalam The Revenge Gaia juga menyebutkan bahwa Gaia (Bumi), sebagaimana organisme pada umumnya, memiliki semacam “kekekalan tubuh” untuk menjaga kesehatannya. Salah satu bagian dari sistem kekebalan itu adalah pandemi.

Apa yang dikatakan oleh Lovelock agak mirip dengan konsep autopoesis, sebuah istilah yang diciptakan oleh dua ahli Biologi, Humberto Maturana dan Fransisco Varela. Hanya saja hipotesis Gaia mencakup geos (bumi) sedangkan autopoesis mencakup hanya sel. Konsep autopoesis digambarkan oleh Fritjof Capra: “jaringan-jaringan kehidupan terus menerus menciptakan atau membuat ulang diri mereka sendiri dengan mengubah atau mengganti komponen-komponen dirinya. Dengan cara demikian sel mengalami perubahan struktural secara berkesinambungan sambil mempertahankan pola susunan mirip sebelumnya.” Tapi Capra melakukan generalisasi bahwa autopoesis lah yang menjadi penciri utama sistem kehidupan.

Apakah Bumi punya kemampuan autopoesis sehingga bisa disebut sebagai organisme tunggal? Beberapa ilmuwan meragukan hipotesis itu. Richard Dawkins dan W. Ford Dolittle misalnya. Tapi video dari CNN Indonesia yang saya tonton tanggal 28 Maret lampau menyatakan bahwa sejak Perancis lockdown tingkat polusi udara mengalami penurunan sebesar 20 hingga 30 persen. Di Spanyol, konsentrasi NO2 di udara mengalami penurunan sebesar 56 persen. Sedangkan di Italia turun hingga 34 sampai 47 persen. Bahkan Sungai Venesia di Italia menjadi bersih. Hewan-hewan liar (rusa, kalkun liar, puma) yang terlihat oleh warga riang gembira turun ke jalan-jalan di India, Chile, Barcelona, California, Prancis dan Italia karena kurangnya aktivitas manusia selama pandemi. Data-data tersebut bisa jadi mengkonfirmasi bahwa aktivitas manusia selama ini berbanding lurus dengan jumlah polutan dan tekanan terhadap habitat spesies lain.

Walaupun Hipotesis Gaia tak terbukti secara ilmiah, toh dia berharga sebagai fiksi bagi kita untuk berinteraksi dengan planet. Bukankah karena fiksi berbunyi “kemanusiaan yang adil dan beradab” kita terdorong untuk bertoleransi? Bukankah karena fiksi berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” kita terdorong untuk menuntut negara memerhatikan kelompok miskin selama pemberlakuan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB)? Sangat mungkin bagi fiksi bernama Hipotesis Gaia mendorong kita bersikap adil terhadap hutan, sungai, teluk, udara dan spesies lainnya.
[]

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button