Opini

Jakarta dan Persoalan Sampahnya

Oleh : La Halufi*

Jakarta sebagai ibu kota Negara Republik Indonesia memiliki daya tarik yang besar bagi masyarakat Indonesia. Selain keberadaan sebagai ibu kota Negara, Jakarta juga merupakan pusat bisnis, politik dan kebudayaan.

Berdasarkan jumlah populasi, Jakarta merupakan kota terbesar ke dua di dunia setalah Tokyo. Dikutip dari Badan

Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta,  Penduduk Kota Jakarta mencapai 10.374.235 jiwa pada 2017.

Namun dibalik kedudukannya yang istimewa, Jakarta memiliki banyak persoalan besar yang melanda dan sejauh ini belum memiliki solusi yang efektif untuk mengatasinya. Sebut saja banjir yang menjadi masalah musiman ketika musim hujan datang.

Ada juga masalahan harian yang menjadi masalah warga dan ibu kota Negara ini, seperti polusi udara dan persoalan sampa yang makin hari makin meningkat. Beberapa hari ini persoalan sampah sampah kembali mencuat ketika seorang anggota partai menyoroti persoalan ini.

Persoalan pengelolaan sampah ini menjadi bahan perbandingan antara pengelolaan sampah di Surabaya dan Jakarta. Sampai ada studi banding yang dilakukan di Kota Surabaya.  Hal ini menjadi pemberitaan hangat dibeberapa media belakangan ini.

Dikutip dari kompas, Pemprov Dki Jakarta melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyatakan Jakarta memproduksi sekitar 7.000 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut 1.900 sampai 2.400 ton merupakan sampah plastic.

Saat ini juga Jakarta menjadi produsen sampah mikroplastik terbesar kedua yang ada di perairan Indonesia.

Banyaknya jumlah penduduk DKI Jakarta berbanding lurus dengan produksi sampah plastic di ibu kota tersebut. Pasalnya menurut DLH, masyarakat DKI banyak menggunakan plastic dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini masif terjadi dimasyarakat khususnya Jakarta.

Data DLH KDI Jakarta, dari jumlah sampah tersebut, sebanyak 60 persen sampah tersebut diambil dari permukiman, 29 persen dari kawasan komersial, dan 11 persen dari fasilitas umum.

Padahal Pemprov DKI Jakarta telah menganggarkan sebesar 3,7 triliun rupiah untuk menangani persoalan sampah ini. Dari anggaran tersebut digunakan beberapa uapaya untuk mengatasi persoalan sampah.

Ada banyak kendala yang dihadapi oleh pempro DKI Jakarta saat ini. Diantaranya:

  1. Bank Sampah.

Saat ini Jakarta hanya memiliki 1.600 bank sampah yang ada. Jumlah ini masih belum cukup sebab jumlah Rukun Warga yang ada sebanyak 2.700. Artinya rasio jumlah Bank sampah dan RW masih kurang sebanyak 1.100 bank sampah yang di RW yang belum memiliki bank sampah tersebut.

  • Pembuangan Sampah

Ketersediaan tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) saat ini masih belum mampu mengatasi persoalan sampah. Terlebih lagi TPST saat ini yang ada hanya 1 tempat yakni Bantargebang Bekasi. Sehingga diperkirakan tempat sudah tidak bisa digunkan pada 2021 mengingat jumlah sampah terus meningkat.

  • Belum adanya Produksi Listrik dari sampah

Jika melihat besarnya produksi listrik yang ada seharusnya Pemprov melakukan inovasi dengan mengembangkan produksi listrik dari sampah. Seperti yang telah dilakukan di kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Kota Surabaya, Kota Kendari dan sebagainya.

Sementara DKI Jakarta baru merencakan program ini. Dan diperkirakan produksi listrik dari sampah baru akan dioperasikan pada 2022 nanti.

  • Kesadaran Masyarakat

Dari semua persoalan yang ada, kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengurangi jumlah sampah di kota ini. Menginggat mereka selaku konsumen dan produsen utama atas persoalan ini seharusnya bisa mengurangi pemakaian plastic.

Jika tidak ada kesadaran maka bisa dipastikan jumlah sampah yang ada akan terus bertambah dari waktu ke waktu.

*Aktivis Rumah Baca Komunitas

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button