Opini

KEBERPIHAKAN ISLAM TERHADAP ALAM

Abdul Rasyid*

Islam adalah agama yang menyeluruh. Mengatur semua urusan dunia dan akhirat. Agama yang komprehensif dan sesuai dengan kondisi zaman. Semua aspek kehidupan tidak bisa dipisahkan dengan Islam. Semua ada cara bermainnya atau petunjuk sebagai pedoman dalam hidup di dunia untuk bekal akhirat kelak. Mencakup dari hal-hal yang paling kecil hingga yang paling besar, dari urusan pribadi hingga urusan negara sekalipun. Apabila cara bermain itu diikuti dengan baik maka akan memberikan kebermanfaatan bagi diri kita, orang-orang di sekitar kita, juga bagi lingkungan di sekitar kita.

Zaman boleh saja berubah, namun Islam akan senantiasa mengikuti dan sesuai dengan zaman itu. Berbagai isu lingkungan hari ini sangat marak, di belahan negara manapun semuanya sama. Industrialisasi dan sifat konsumtif manusia yang tak pernah puas membuat alam ini tidak seimbang.  Kenapa tidak seimbang? Karena manusia jauh dari koridor yang Allah gariskan sebagai bekal hidup di dunia. Sehingga dalam aktivitas ekonomi cenderung eksploitatif dan konsumerisme dalam mengonsumsi barang. Sedangkan, alam ini memiliki batasan (daya dukung lingkungan), apabila berlebih maka alam akan tidak seimbang.

Masalah lingkungan berdampak pada keseimbangan ekosistem. Perhatian dunia terhadap masalah lingkungan sudah dimualai sejak beberapa decade lalu, sekitar tahun 1950-an. Paling tidak ada 4 gelombang yang secara bertahap menghasilkan perhatian penting dari dunia terhadap masalah lingkungan. Gelombang pertama (sebelum 1950-an), sebatas konsep masalah lingkungan. Dalam tulisannya yang berjudul “Man and Nature” (1864) Marsh menyatakan bahwa aktivitas manusia terutama dalam insdutrialisasi merupakan perusak keseimbangan alamiah lingkungan. Gelombang kedua (era 1960-1970-an), perdebatan masalah lingkungan masih pada lingkup regional belum mengglobal. Para pengusaha masih enggan untuk menjalan aturan da regulasi lingkungan. Kemudian pada tahun 1972 Perserikatan Bangsa-Bangsa menyelenggarakan konferensi yang melahirkan United Nation Environemntal Program (UNEP), yaitu lembaga di bawah PBB yang fokus pada penanganan masalah lingkungan global. Gelombang ketiga (1980-an), muncul istilah Sustainable Development (pembangunan berkelanjutan). Gelombang keempat (1990-an-sekarang), ditandai dengan KTT Bumi di Rio de Janeiro Amerika tahun 1992 yang memberikan pengakuan bahwa seluruh dunia mengetahui masalah lingkungan menjadi isu global.

Seakan dunia ini kehilangan arah dalam membangun sebuah peradaban negara. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi masalah lingkungan tersebut. Islam sebagai agama yang komprehensif telah memberikan rambu-rambu dalam mengelola alam sehingga alam pun akan baik kepada kita. Sudah cukup jelas Islam mengajarkan kepedulian terhadap alam. Kita hidup dari alam, alam membutuhkan perawatan dan perlakuan yang baik dari manusia. Kita saling bergantung kepada alam, oleh karena itu sudah seharusnya kita memperlakukan alam dengan bijak sesuai dengan koridor agama.

“Bumi adalah masjid,” sabda Nabi Muhammad saw. Selain berarti kita boleh mengerjakan shalat di tempat mana pun yang bersih dan suci, ada pesan tersirat untuk memelihara alam. Dekat dengan Tuhan, ramah dengan lingkungan, dan saling menjaga satu sama lain di planet ini. Islam tidak hanya menaruh perhatian kepada pesoalan spiritual dan hubungan antar sesama, Islam juga memberikan ispirasi dalam mengelola lingkungan.

Menurut Faraz Khan, seorang ahli Islam dan lingkungan ada 6 prinsip dalam menjaga dan mengelola alam. Memahami kesatuan tuhan dan cipataan-Nya (tauhid), melihat tanda-tanda (ayat) Tuhan di mana saja, menjadi penajaga (khalifah) di bumi, menjaga kepercayaan Tuhan (amanah), berjuang menegakkan keadilan (‘adl), dan menjalani kehidupan yang seimbag dengan alam (mizan). Muslim yang taat harus memegang teguh dan berkomitmen menegakkan prinsip-prinsip tersebut. Islam memberikan inspirasi sedemikian rupa, apabila semua umat muslim di seluruh belahan dunia melaksanakan prinsip tersebut maka alam ini akan indah. Akan lebih indah lagi jika antar umat beragama memahami permasalahan tersebut, kemudian melalui pemahaman agama yang baik diimplementasikan dalam tindakan nyata melalui menjaga alam.

Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya). (QS. Ar-Rahman:3-10). Allah menciptakan alam semesta ini cuma-cuma untuk manusia. Allah menciptakan alam dan seisinya dengan ukuran-ukuran yang telah ditetapkan (carrying capacity). Oleh karena itu jangan sampai kita melampaui batas itu, kita harus adil dalam memperlakukan alam yang Allah anugerahkan kepada kita sebagai wujud syukur. Apabila daya dukung lingkungan tidak memenuhi namun dipaksakan untuk diekstraksi secara berlebih maka lingkungan akan rusak.

Allah telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang (QS. Ibrahim:32-33). Betapa Allah telah menganugerahkan dunia dan seisinya, dari daratan hingga lautan semuanya untuk manusia. Seluruh ciptaan Allah tersebut memuaskan dahaga kita. Di ayat selanjutnya Allah mengingatkan dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS. Ibrahim:34).

Sungguh luar biasa anugerah yang Allah berikan. Jika hari ini kita mendengar adanya krisis dan kekurangan ini dan itu maka kita harus mengubahnya menjadi wacana yang menekankan bahwa kita memiliki semua yang kita butuhkan. Adanya kekurangan atau krisis tak lain karena ulah manusia yang tidak adil. Bisa jadi alam rusak, sehingga tidak mampu berproduksi atau ulah manusia yang mengeksploitasi kekayaan alam ini untuk ditimbun bagi dirinya sendiri sehingga krisis melanda.

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Dunia ini indah dan berlimpah, dan sesungguhnya Allah yang Mahatinggi telah menjadikanmu wakil-Nya, dan Dia mengawasi bagaimana dirimu berperilaku.” Sabda Nabi Saw. mengandung arti bahwa manusia sebagai penjaga, bukan perusak. Keberadaan kita di dunia ini ditentukan oleh tindakan kita. Apakah memelihara alam dengan baik atau justru merusaknya?.

Pada dasarnya menjaga dan mengelola alam itu tidaklah sulit jika kita memegang nilai-nilai agama. Seringkali kita memisahkan agama dengan kehidupan, sehingga peliklah masalah yang kita hadapi. Padahal agama sudah sangat jelas mengatur, namun manusia mengabaikan aturan-aturan yang Allah gariskan. Sistem kapitalisme justru yang membuat alam menjadi tidak seimbang, namun paham inilah yang menjangkit hampir di seluruh negara di dunia. Pertumbuhan ekonomi berorientasi pada keuntungan semata tanpa mengindahkan daya dukung alam dan keberlanjutan untuk generasi yang akan datang.

*Mahasiswa Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB Angkatan 2015

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button