Opini

KHM Bukan Ortom, Hanya Gerakan Kultural Tanpa Founder & Tanpa Jas

Oleh : Syahrul Ramadhan*

Tulisan ini berawal dari semakin banyaknya kader – kader muda Muhammadiyah di beberapa daerah yang menanyakan bagaimana caranya mendirikan Kader Hijau Muhammadiyah (KHM). Pertanyaan ini sebenarnya wajar dan normal ditanyakan dalam pembahasan organisasi. Banyak pesan Whatsapp masuk ke saya ataupun ke kawan – kawan KHM lain terkait pertanyaan tersebut. Dengan sederhana saya menjawab “ya tinggal dirikan saja, kumpulkan kawan – kawan yang satu visi (ekologi)”. Namun hal tersebut membuat terkejut kawan – kawan yang bertanya kepada saya karena dianggap terlalu mudah dan sederhana sekali cara pendiriannya. Mereka yang tertarik mendirikan KHM di daerahnya masing – masing menganggap bahwan akan sangat repot dan formal untuk pendirian KHM di daerahnya, ternyata tidak. Mungkin seperti membuat surat, meminta izin ke ortom setempat, dan lain sebagainya. Sehingga tulisan ini bermaksud menjelaskan apa dan bagaimana KHM bisa berdiri dan berkembang di daerah – daerah.

KHM Lahir dari Gerakan Rakyat

Sekitar awal bulan februari pada tahun 2018 tepatnya di salah satu kota besar di Indonesia yaitu Surabaya terjadi penggusuran di salah satu perkampungan karena dianggap ilegal dan membuat kumuh kota tersebut. Wajar saja karena walikotanya sangat memprioritaskan keindahan kota daripada nilai – nilai kemanusiaan lainnya. Namun bagi beberapa aktivis mahasiswa dan pemuda hal tersebut sangatlah mengusik hati nurani, termasuk kami aktivis muda Muhammadiyah yang ketika itu masih aktif di ortom masing – masing. Akhirnya beberapa aktivis muda Muhammadiyah di Surabaya ikut turun membangun kekuatan solidaritas bersama rakyat yang terdampak dengan aliansi aktivis lainnya seperti Walhi, FNKSD, dan lain – lain. Pertemuan kami dengan rakyat korban penggusuran dan aktivis – aktivis lingkungan dari bermacam – macam latar belakang tersebut yang menyadarkan kami pentingnya gerakan lingkungan dalam dakwah islam pada umumnya dan Muhammadiyah pada khususnya.

Keyakinan tersebut semakin mantap ketika kami dan aliansi solidaritas rakyat tersebut kalah dalam kasus tersebut dan bertemu dengan permasalahan penggusuran dan perampasan ruang hidup untuk kedua kalinya yaitu di Waduk Sepat Surabaya yang sampai saat ini kasus tersebut belum terselesaikan dan belum dimenangkan oleh rakyat. Kasus kedua ini adalah konflik antara salah satu perusahaan properti besar di Surabaya dengan warga sekitar. Warga sekitar hendak mempertahankan waduk yang akan disulap menjadi perumahan megah dan elit.

Singkat cerita dua kasus tersebutlah yang mendorong kami aktivis – aktivis muda Muhammadiyah di Surabaya mendirikan Kader Hijau Muhammadiyah sebagai wadah kultural dan gerakan alternatif bagi kader – kader muda Muhammadiyah yang memiliki kepedulian dan komitmen lebih terhadap lestarinya alam semesta. Ada pertanyaan besar ketika awal pendirian dari ortom – ortom Muhammadiyah, kenapa gerakan ekologi tersebut tidak melalui ortom AMM saja seperti IPM, IMM, PM dan NA?  

KHM Wadah Kultural, Bukan Ortom

Ketika awal berdirinya, KHM telah melalui perdebatan panjang tentang posisi dan peran di tengah gerakan agung persyarikatan Muhammadiyah. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak berada di bawah organisasi otonom Muhammadiyah apapun karena kami sangat memahami dan menghargai dinamika visi, misi dan orientasi Ortom Muhammadiyah yang sangat dinamis setiap pergantian periodesasi, tidak bisa dipaksakan untuk fokus terhadap isu lingkungan saja. Sehingga karena alasan itulah kami memutuskan untuk berdiri sendiri namun bukan sebagai ortom baru, akan tetapi sebagai wadah gerakan komunitas atau gerakan dakwah kultural sesuai rekomendasi muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makassar.

Posisi tersebutlah yang kami harap menjadikan KHM akan lebih inklusif tidak terbatas oleh satu ortom saja. Aktivis ortom Muhammadiyah dari IPM, IMM, PM, NA, dll dengan sangat terbuka dipersilahkan bergabung untuk bergerak bersama dengan KHM ketika mempunyai kepedulian dan komitmen lebih terhadap isu lingkungan tanpa aturan yang kaku dan sangat formal. Sehingga untuk kader – kader Muhammadiyah yang ingin mendirikan di daerah dan tempatnya masing – masing tidak perlu khawatir dengan repotnya aturan dan syarat. kumpulkan kawan – kawan yang mempunyai kesamaan visi, menyatulah dengan rakyat dan selamat bergerak bersama.

Komunitas Tanpa Founder, Bendera dan Jas

Jika ada kawan – kawan bertanya kepada kami siapakah pendiri atau founder KHM, maka kami akan menjawab tidak ada atau bahkan memang sengaja kami tiadakan. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas bahwa KHM lahir dari gerakan rakyat. Selain itu kami benar – benar sangat menghindari penokohan dan pengkultusan terhadap salah satu atau beberapa individu agar benar – benar terwujud cita – cita kami yaitu KHM sebagai gerakan komunal.

Tidak hanya itu saja, dalam beberapa kegiatan dan aksi kami tidak berkeinginan menonjolkan bendera kami meskipun KHM sendiri mempunyai logo begitupun KHM di daerah masing – masing. Hal tersebut kami niatkan agar KHM mampu menyatu secara organik tanpa sekat dengan rakyat yang sedang terdampak dan bisa bergabung dengan aliansi aktivis – aktivis lingkungan lainnya. Selain perihal bendera, kami pun sampai hari ini tidak akan membuat sekaligus mengenakan seragam atau jas almamater seperti komunitas atau organisasi lain pada umumnya. Hal tersebut kami sengaja lakukan agar KHM tetap berpakaian seperti keadaan realita dan rakyat yang sedang kami dampingi. Kami sering berkelakar dengan kawan – kawan bahwa “seragam kami adalah pakaian yang dipakai rakyat, sedangkan tokoh kami adalah rakyat itu sendiri”

Pada akhirnya kami tidak pernah menyangka KHM akan berkembang sebesar ini. Tidak pernah sekalipun kami memimpikan KHM akan berdiri di setiap daerah – daerah di Indonesia. Ketika awal berdiri kami hanya ingin Kader Muda Muhammadiyah hadir di tengah – tengah penindasan kemanusiaan dan lingkungan hidup yang disebabkan oleh keserakahan sebagian orang. Lompatan besar tersebut terjadi setelah kami berangkat ke Jogja untuk bertemu dan bersilaturahim dengan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah. Setelah mendapat dukungan, motivasi dan nasehat dari ayahanda – ayahanda Muhammadiyah kami semakin yakin bahwa Allah selalu berpihak kepada orang yang dilemahkan. Pucuk dicinta ulam pun tiba, semakin hari banyak kader Muhammadiyah dari daerah – daerah yang berkeinginan mendirikan KHM di daerahnya masing – masing. Mulai dari Jember, Bojonegoro, Lamongan, Sumatera Selatan, DIY, Sulawesi Selatan, dan lain lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Mari bergerak bersama, selamat mencoba.

Salam Lestari, Hijau Berseri.

*Anak Kandung Rakyat

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button