Opini

Makanan dan Kesehatan

Oleh: Dharma Setyawan

Bill Gates sebagai pengusaha Microsoft era 90-an telah memprediksi dua kebutuhan dasar manusia yang semakin dilupakan yaitu makanan dan kesehatan. Mengapa nama dia tidak melambung pada era digital ekonomi melalui teknologi aplikasi digital? Sedangkan dari dirinyalah dia sukses membawa dunia pada era komputer meninggalkan mesin tik.

Nama Bill Gates ternyata banyak muncul pada pengembangan industri pupuk dunia (IFA). Arah lain Bill Gates ini terjadi saat negara lain membanggakan pengembangan ekonomi berbasis aplikasi digital, dan banyak lulusan luar negeri asal Indonesia yang juga ikut mengembangkan apa yang menjad trend dunia. Mereka yang mengikuti jejak Bill Gates tentu punya kontribusi besar bagi peradaban komunikasi dan kemudahan teknologi, terutama dalam meminimalisir ruang gerak untuk transaksi tanpa pertemuan.

Tapi, mengapa Bill Gates seperti tidak tertarik dengan kondisi ekonomi digital ini, padahal dia yang ikut memulai perubahan mesin tik ke komputer yang kelak menjadi tonggak perang data? Pada dasarnya dia sudah ikut menguasai tren tersebut sejak Microsoft meluncur, karena pakem alat teknologi komputer tetap dia yang punya. Tapi dia memilih fokus lain yang dalam prediksinya negara-negara maju dan berkembang akan melupakannya.

Bill Gates menyadari jauh-jauh hari akan adanya krisis pangan dan, prediksinya, akan muncul banyak virus mematikan saat sementara dunia kesehatan di berbagai negara tidak siap, kecuali bagi negara seperti Kuba, yang sejak revolusi melakukan perubahan besar dalam bidang kesehatan. Kuba punya ideologi politik yang jelas, yang tidak lahir dari politik sapi perah. Dunia kesehatan Kuba dibangun dengan ratio dokter berlimpah untuk melayani warga secara murah dan maksimal. Begitu juga dengan pangan, di mana negara seperti Vietnam fokus pada pangan, dan Thailand dengan agribisnisnya. Negara-negara ini menjadikan pertanian sebagai kebudayaan, bukan bukan pekerjaan yang makin hari makin tidak manusiawi, distigmakan sebagai pekerjaan kaum miskin. Negara-negara ini tidak menyerahkan semuanya pada persaingan pasar.

Di Indonesia, pupuk organik yang dibuat rakyat tidak pernah mendapatkan subsidi oleh negara. Tidak ada upaya massal mendukung produksi warga. Negara kalah dengan industri pupuk kimia dan malah mensubsidi pupuk kimia itu. Tapi para penggiat pertanian organik masih bersyukur, sebab mereka masih bisa bertahan mempraktekkan pertanian organik. Anda bisa lihat kreatifitas mereka di youtube, misalnya, dan itu semua dicapai tanpa ada negara yang membersamai.

Jika revolusi Kuba di awal-awal menyebabkan setengah dokter Kuba kabur mencari suaka di negara lain, Fidel Castro tidak kalah akal. Ia memberi subsidi besar-besaran untuk dunia pendidikan dan kesehatan Kuba. Sehingga sekolah kesehatan yang mahal itu ditanggung negara sebagai strategi investasi SDM. Hasilnya tidak seperti Indonesia: dokter di Kuba adalah kelas jelata, hidup berbaur dan setara dengan rakyat kebanyakan, sebab sekolahnya murah, dan wajar jika biaya kesehatan pun murah.

Kuba membuktikan bahwa mereka yang dibiayai sekolah murah tentu tidak merasa rugi jika dibayar murah. Artinya, negara hadir dan pasar tunduk untuk tidak masuk dalam bidang kesehatan. Kita nenyaksikan Kuba mengirim dokternya ke berbagai negara demi membantu mengatasi Virus Corona. Jauh dari Kuba, contoh baik bisa didapatkan di Malaysia. Orang sakit hanya perlu membayar 1 Ringgit, dan untuk ttebus obat 2 Ringgit. Di Indonesia para orang tua dengan bangga menyekolahkan anak di jurusan kesehatan dengan biaya ratusan juta, yang kelak rakyat harus membayar mereka dengan mahal.

Jadi kalau ada sarjana yang belajar menanam tanaman pangan, mencoba menanam pangan sehat organik, sebenarnya itu harus didukung. Di berbagai negara berkembang yang menolak mengekor negara maju, pemandangan semacam itu sudah lumrah. Apalagi negara yang diberikan Tuhan tanah yang luas, dengan ekosistem tanaman beragam tapi hancur karena tanaman monokultur seperti sawit, ditambah dengan pengerukan oleh tambang para elit modal berbaju elit politik. []

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button