KHM

Membangu kesadaran Biosentrisme dalam menangani darurat sampah

11 Januari 2026 Fahmi Ahmad Fauzan 63 views
Membangu kesadaran Biosentrisme dalam menangani darurat sampah

Membangun Kesadaran Biosentrisme Masyarakat Dalam Menangani Darurat Sampah

Krisis lingkungan sudah semestinya menjadi isu aktual yang perlu dikaji secara massif hingga menemukan titik terang mengatasi krisis lingkungan, bagaimana tidak. Mayoritas tempat pembuangan sampah di Indonesia sudah melampaui kapasitas maximum. Belum lama warga Jogja khususnya mengalami dampak dari berlebihnya kapasitas sampah TPST Piyungan yang merupakan pusat pembuangan akhir seluruh masyarakat Yogyakarta. Pemkot Jogja menutup sementara TPST Piyungan karena telah melampaui kapasitas, melansir dari Jogjaprov.go.id jogja seiap hari menghasilkan 732ton sampah TPST Piyungan lah yang memikul beban tersebut. Bantargebang yang merupakan pembuangan terbesar di Indonesia pun mengalami hal serupa. Melansir data dari CNN.ID Bantargebang perhari menghasilkan 7.800 ton sampah. Dengan ditutupnya TPST Piyungan yang menjadi pusat tempat pembuangan sampah warga Yogyakarta, timbul lah kreatifitas warga dengan menumpuk buntalan sampah di beberapa ruas sudut Jogja. Tumpukan sampah terlihat dibeberapa ruas jalan menandakan masih minimnya kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah secara mandiri. Upaya sosialisasi pengolahan sampah telah disampaikan oleh pemerintah kepada masyarakat, apakah hanya cukup dengan sosialisasi?.

Hubungan manusia dengan lingkungan

Manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan yang dianugrahkan akal budi dengannya menjadi makhluk paling mulia, sehingga allah tak ragu memberika tugas besar sebagai khalifah filardh. Allah didalam firmannya berkata “sesungguhnya ketika allah berkata kepada malaikatnya, aku akan menurunkan dimuka bumi seorang khalifah” para mufassir berbeda pendapat dalam memaknani kata “Khalifah”. Dalam konteks ini penulis mengambil makna “Khalifah” (agen perbaikan moral). Dalam konteks lingkungan, perbaikan moral dapat dilakukan dengan cara menjaga stabilisasi ekosistem lingkungan agar seluruh kalangan merasakan kebermanfaatan. Banyak dari manusia belum memahami tugas mulia ini, penebangan liar, penambangan besar-besaran, eksploitasi lingkungan dan segala bentuk upaya merusak alam dengan dalih pembangunan untuk perbaikan ekonomi negara.
Hubungan Antroposentrisme yang terjalin antara manusia dengan lingkungan merupakan salah satu faktor utama penyebab eksploitasi alam sebagai komoditas ekonomi. Antroposentrisme merupakan paradigma berfikir yang menganggap alam hanya sebagai objek mesin raksasa pemuas hasrat bringas manusia. Paradigma berfikir Antroposentris memisahkan fungsi alam dan makhluk hidup didalamnya, eksploitasi besar-besaran pun dilakukan untuk mengisi kantong kekayaan pribadi. Menurut mereka jika alam rusak manusia tidak mengalami dampaknya, karena mereka memisahkan antara keduanya. Paradigma Antroposentrisme banyak kita temukan pada tataran atas manusia dengan segudang ilmu bahkan kedudukan dan jabatan yang tinggi, akan tetapi minim akal budi. Manusia seperti ini hanya berfikir bagaimana cepat meraup kekayaan tanpa memperhatikan cara yang dilakukan sudahkah bijaksana.
Maka menurut fritjof capra dalam bukunya Filsafat Lingkungan Hidup (Alam Sebagai sebuah Sistem Kehidupan), kita harus merubah paradigma Antroposentrisme menggantinya dengan paradigma Biosentrisme. Biosentrisme merupakan cara pandang manusia terhadap alam, yang beranggapan manusia dan alam merupakan satu komunitas yang perlu dijaga dan dilestarikan. Banyak kita dapatkan paradigma Biosentrisme di berbagai pedalaman suku di Indonesia, meskipun mereka mungkin belum memahami apa itu Antroposentrisme ataupun Biosentrisme. Namun naluri dan akal budi mereka menyadari bahwa alam yang telah dikaruninakan untuk kehidupan seluruh makhluk penghuninya perlu dijaga dan lestari.
Manusia sebagai makhluk berakal budi memiliki beban lebih dalam menjaga kelestarian alam dan mencari solus krisis yang baru ini terjadi. Paradigma Biosentrisme bisa menjadi dasar utama perubahan stigma dari alam hanya sebagai pemuas komoditas ekonomi (objek), menjadi alam sebagai kesatuan yang menyatu dengan penghuni didalamnya. Jika alam sudah rusak cepat atau lambat penghuni didalamnya akan rusak pula. Jika penulis Tarik garis besar dari teori diatas dengan permasalahan yang tak kunjung selesai yaitu permasalahan sampah menggunung melampaui batas kapasitas TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Solusi penanganan sampah

Volume sampah Indonesia pada 17 maret tahun 2023 menurut dpr.go.id mencapai 68,5 juta Ton. Munculnya tumpukan sampah dibeberapa titik yang tidak seharusnya, merupakan salah satu interpretasi dari paradigma Antroposetrisme. Permasalahan gunungan sampah yang membludak di berbagai titik TPA harus segera pemerintah selesaikan. Cukupkah beban ini menjadi urusan pemerintah?, upaya pemerintah dalam menyelesaikan sampah sudah cukup massif. Pemerintah Joja khususnya sudah mensosialisasikan Zero west, mbah dirjo dan beberapa cara pengolahan sampah lainnya. Pemerintah kota Jogja sempat memberikan syog terapi dengan ditutupnya TPST Piyungan, tujuannya agar warga belajar mandiri dalam mengelola sampah.
Sudah saatnya masyarakat merubah paradigma Antroposentrisme dengan Biosentrisme, Agar tercipta ligkungan yang lestari. Dengan menganggap alam sebagai satu kesatuan dalam kehidupan dapat memunculkan rasa kepedulian masyarakat terhadap masalah ligkungan terlebih masalah sampah. Sebagai masyarakat berakal budi, lebih afdhol masyarakat membantu pemerintah menyelesaikan peermasalahan yang berlarut ini dengan mempraktekkan cara-cara pengolahan sampah sehingga tumpukan sampah berkurang, disamping pemerintah memiliki beban lebih dalam hal ini. Banyak sudah solusi yang ditawarkan pemerintah dalam penelolaan sampah dari berbagai macam tema: bio pori, bank sampah, maggot dll. Perlu kesadaran yang muncul dari benak diri setiap individu masyarakat, setiap individu harus berkenan sedikit repot memilah sampah agar tidak terjadi tumpukan menimbulkan bau busuk, bersediakah kita melakukan kebiasaan baru ini?, meskipun sulit dalam praktek terlebih dengan keadaan sosial masyarakat yang masih sulit membuang sampah pada tempatnya, kita harus sama-sama berusaha dan tetap optimis. Sumber tumpukan sampah bermula dari enggannya masyarakat memilah sampah, jika kita spesifikkan: Sampah organik: nasi, kupasan bawang, sayur basi dll sudah diberikan solusi oleh pemerintah dengan membuat biopori atau pakan maggot. Sampah anorganik: botol plastik, plastik dll pun sudah ada solusi dengan dibuatkan paving block dapat juga ecobrick. Bayangkan jika seluruh sampah tersebut bertumpuk satu tanpa pemilahan maka akan terjadi gunungan sampah seperti terlihat di Tempat Pembuangan Akhir. Agaknya masyarakat enggan peduli dengan sampah yang mereka buat. Padahal, jika sampah menggunung dan tak kunjung terurai berakibat fatal bagi kesehatan, tidak menutup kemungkinan akan terjadi ledakan akibat gas yang dihasilkan oleh sampah. Uraian terakhir saya mengajak seluruh masyarakat agar sadar dan berkenan mengolah serta memilah sampah sejak dari rumah.

Fahmi Ahmad Fauzan

Ditulis Oleh

Fahmi Ahmad Fauzan

Pegiat Kader Hijau Muhammadiyah | Social Empowerment Facilitator | Human Right & Ecological Spescialist | Reseachers Social & Environment