Opini

Nazisme Jalan Raya

Oleh : Harsandi Pratama Putra*

Sebuah mobil tentara berjalan sangat cepat, sedangkan orang di dalam mobil tersebut meneriaki pengguna jalan lain agar minggir, seakan jalan raya itu adalah milik nenek moyangnya. Itulah fenomena yang biasanya terjadi di jalan raya, berbuat semaunya tanpa memperdulikan orang lain. Fenomena lainnya adalah perilaku pengemudi yang menganggap jalan raya sebagai rumah pribadi. Mereka dengan seenaknya membuang sampah melalui kaca jendela, apalagi di Makassar dengan slogannya “Makassar Tida’ Rantasa’’ (Makassar Tidak Kotor) justru fenomena ini merupakan hal lumrah dan sudah menjadi kebiasaan. Salah satunya adalah kejadian di Jalan Pettarani yaitu sebuah mobil pribadi dengan merek terkini sedang berupaya menerobos kemacetan. Di kaca belakang mobil ada tempelan huruf parsi disertai gambar pedang terhunus melintang di bawahnya. Pada sudut atas kaca melekat sebuah stiker bertuliskan “Program Pascasarjana Universitas (menyebut nama sebuah agama). Sesekali kaca samping mobil terbuka dan tangan di dalamnya menjatuhkan beraneka sampah mulai dari botol mineral, tisu, dan puntung rokok. Mereka adalah kaum intelek yang beragama.

Bukankah dalam islam keimanan seseorang itu bisa dilihat dari bagaimana dia menjaga kebersihan. Atau kata-kata itu hanya berlaku di dalam kelas sebagai bahan dalam menyampaikan materi perkuliahan. Mungkin kita bisa memunculkan sebuah kesimpulan bahwa, “Agama dan sekolah belum tentu membuat kita mampu membuang sampah dengan benar.”

Jalan raya juga telah menjadi panggung untuk memperlihatkan posisi sosial sebuah masyarakat. Masyarakat urban yang memperlihatkan eksistensi dirinya dengan barang-barang yang dimiliki, dan itu menjadikan diri mereka sebagai seorang maniak pamer di mana sampah yang dibuang adalah sebuah barang pameran untuk memperlihatkan keberadaan barang-barang yang mereka komsumsi. Layaknya sebuah pameran lukisan kebanggan itu ada di dalamnya. Gelar dan stiker agama serta nama sekolah pascasarjana hanyalah fashion serta dijadikan komsumsi untuk citra diri.

Selain itu, jalan raya menyajikan begitu banyak peristiwa yang mendramatisir. Contohnya, para tukang parkir yang sudah susah payah membantu pengendara untuk menyeberang dengan mengharapkan imbalan yang tidak seberapa asalkan bisa membeli sebungkus roti dan segelas air untuk pengisi perut. Tapi, kenyataanya mobil ini langsung tancap gas tanpa memberi uang kepada yang membantunya. Di manakah rasa empati seseorang terhadap sesamanya, sebegitu sayangnya terhadap uang seribuan sehingga mereka tidak rela melepas uang itu untuk diberikan kepada yang membutuhkan dan juga para pengamen, bocah-bocah penjual koran yang mencari kehidupan di jalan raya. Ya, jalan raya telah dijadikan rumah kehidupan, tempat untuk istirahat dengan beralaskan tanah dan beratapkan langit.

Ada sebuah buku menarik tentang jalan raya, buku ini ditulis oleh Ronald Primeau seorang berkebangsaan Amerika pada tahun 1996, dengan judul Romance the Road: The Literature of American Highway setelah dia menjelajahi seorang diri jalan-jalan di Amerika. Menurutnya, melalui jalan raya kita dapat mengetahui banyak hal soal manusia Amerika.

Ronald mengatakan kehidupan sebuah bangsa dapat diukur dari kesempatan-kesempatan seseorang untuk melarikan diri dari rutinitas keseharian yang menjenuhkan. Namun apa yang terjadi hari ini, jalan raya justru menjadi momok dan bahkan akan membuat kita semakin jenuh, marah dengan instrument-instrumen yang dihadirkan seperti kemacetan atau pencurian. Tapi menurut Ronald meskipun jalan raya tidak bisa lepas dari kendaraan dan kecepatan karna itu merupakan identitas yang sudah tertancap kuat. Di jalan raya juga sering terjadi love story yang romantis. Seringkali kita temukan sepasang kekasih duduk di atas sepeda motor sambil memadu kasih dan memperbincankan janji-janji cinta. Menurut Ronald, semuah kisah di jalan raya tersebut dapat diolah menjadi sebuah narasi sastra jalan raya.

Di sisi lain, jalan raya juga biasanya telah menjadi tempat untuk menyuarakan berbagai keresahan, di mana kita bisa melihat sekumpulan para mahasiswa yang melakukan demonstrasi untuk menuntut kata-kata atau hak-hak yang sekadar retorika gombalan. Dikeluarkan dari mulut para penguasa yang memegan tampuk di ibu pertiwi. Kita bisa bernostalgia ke masa lalu saat semua warga kampus turung ke jalan untuk menumbangkan rezim otoriter saat itu yaitu Presiden Soeharto. Kita bisa lihat sebuah perubahan besar telah terjadi yaitu kerajaan yang kokoh selama 32 tahun itu akhirnya runtuh juga.

Di jalan raya ini jugalah dipertemukan semua bendera organisasi mula dari HMI, GMNI, KAMMI, dan masih banyak lagi. Seringkali kita juga menemukan baliho-baliho caleg yang sudah tidak dipakai dan dibiarkaan begitu saja berserakan di pinggir jalan. Kampanye-kampanye yang dilakukan juga membuat pengguna jalan lain merasa terganggu.

Jalan raya telah menjadi sikap dari pemerintahan Nazi Jerman yang begitu otoriter. Tidak ada kedamaian yang ada hanya sikap fasisme. Apakah sila-sila pancasila, Butir-butir UUD 1945 tidak pantas dimunculkan di jalan raya. Esensi manusia sebagai makhluk berakal nyatanya hanya sekadar cap, tapi di jalan raya mereka adalah beringas-beringas yang tak kenal aturan. Di mana kedamaian itu, yang kita harapkan adalah rasa tenang serta cinta yang bisa dibawah pulang.

Sebuah lagu dari Journey  tentang jalan raya dapat kita nikmati:
Highway run, into the midnight sun. wheels go round, you’re on my mind. (Jalan-jalan berlari melintas sang waktu.vRoda-roda terus berputar, dan kau tetap dalam benakku).

*Masyarakat Pulo Bembe, Kab. Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan

Editor : Yulianto Adi Nugroho
Ilustrator : Alfian Sudjadi

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button