Opini

Perjuangan Perempuan Mollo Mempertahankan Diversitas Pangan

Oleh : eM Huda

Persoalan lingkungan hidup di Indonesia kian hari semakin memprihatinkan. Menilik jauh ke belakang mengenai kebijakan Revolusi Hijau Orde Baru, yang telah menimbulkan rigiditas dalam berpikir perihal pangan. Pasalanya Orba menerapkan pertanian monokultur: padi, sebagai penyeragaman makanan pokok di negara yang beragam.

Berlanjut sampai era presiden Jokowi yang kedua kalinya, beras masih menjadi politik pangan di negara ini. Celakanya adalah, masyarakat yang tidak makan nasi akan dianggap miskin, karena standar kaya berpatokan pada berapa stok beras yang ada di rumah. Rigiditas pangan tersebut juga tak menutup kemungkinan akan bergeser dalam waktu dekat seiring pesatnya perkembangan pangan a la fast food. Barangkali sebentar lagi pertanyaan: sudah berapa kali pergi ke McDonald bersama keluarga? Dianggap wajar saja.

Standar “kaya” dan “sejahtera” akan terus berubah mengikuti pola gerak kapitalisme. ia, kapitalisme lanjut, menciptakan masyarakat konsumtif—bukan lagi produktif—agar para petani meninggalkan lahan garapannya; karena diskursus yang digulirkan adalah, ketela, jagung, singkong merupakan simbol orang miskin; dan itu tidak berguna untuk mengangkat prestise sosial. Memang prosesnya tidak sesimpel itu, tapi faktanya lebih kejam dari itu.

Ketika petani berbondong-bondong melarikan diri dari lahan pertanian dan me-reartikulasi diri sebagai masyarakat modern, maka mereka telah terhegemoni oleh kapitalisme—umumnya melalui negara—(Mustain, 2017; Suliadi, 2015). Mulailah aktivitas kapitalisasi lingkungan, yang dianggap kapitalisme sebagai tidak bernilai jika tidak menghasilkan ekonomi (Carolyn Merchant, 2016), dengan maksud mengakumulasi kekayaan segelintir orang.

Setelah semua itu terjadi, seperti industri ekstraksi dan industri monokultur, hal yang paling tidak bisa dihindari suatu negara adalah krisis pangan. Seperti yang kita rasakan baru-baru ini, betapa goyahnya pangan negara dengan sekali senggol oleh virus. Terlebih gender tradisional yang dianut masyarakat pada umumnya menjadikan perempuan paling terdampak dari merebaknya krisis pangan. Tugas reproduksi (menyiapkan makanan, air bersih, kesehatan reproduksi) mengalami gangguan lebih besar dibanding laki-laki yang umumnya disiapkan oleh isteri/ibu/perempuan.

Sejenak kita perlu berpikir, betapa pentingnya mempertahankan diversitas pangan di negeri agraris. Dan, betapa bergunanya ragam pangan yang sebenarnya sudah dimiliki ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. sialnya kita sering mencemooh diri, yang bukan beras adalah primitif, yang pada akhirnya membuat kerentanan pada diri sendiri.

Menilik ke Mollo, daerah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) NTT, sebuah perjuangan mempertahankan lingkungan serta ragam pangan pernah dan telah terjadi. Perlawanan masyarakat Mollo berlangsung dari 2006 hingga 2010 (Ekofeminisme III, 179), sejak tambang Mangan—perijinannya sejak tahun 1980—di gunung Muntis menjadi petaka bagi mereka.

Munculnya perlawanan karena munculnya kesadaran koneksitas mereka—terutama perempuan—dengan alam. Bagi mereka, Mollo memiliki arti setara dengan seorang ibu, sebagai ujung pangkal proses kehidupan. Terbukti dengan aliran air yang mengalir dari TTS sampai ke Timor Leste. Selain itu, kesuburan tanah dan sistem tanam yang beragam—menanam tiga jenis atau lebih benih tanaman sekaligus dalam sekali menanam—menjadikan masyarakat sangat sejahtera. Kekayaan tersebutlah yang mendorong mereka untuk mempertahankan lingkungan hidup.

Aleta Baun, sebagai representasi perempuan Mollo menyatakan bahwa kekayaan sumber daya alam mereka yang sudah disediakan oleh bumi bukan untuk dikapitalisasi. Seluruh pemberian bumi ini diamanatkan untuk digunakan demi keberlangsungan hidup seluruh makhluk. Bagi masyarakat Mollo, tidak ada makhluk, sekalipun manusia, yang dapat mereproduksi sumber daya yang akan habis (ibid., 132); dan sikap eksploitatif kapitalis—tambang mangan—berpotensi merusak alam mereka.

Akibat dari sikap eksploitatif terhadap perempuan adalah, mereka harus menanggung resiko kekurangan air bersih, produktivitas pangan yang terganggu, dan polusi suara serta udara dari pertambangan mangan. Persoalan pangan menjadi urgen bagi perempuan, pasalnya mereka menjadi ujung tombak penyimpanan dan pengaturan konsumsi pangan, juga pengolahan lahan; berbeda dengan laki-laki yang hanya membuka lahan (ibid., 133). Akumulasi pengalaman tersebut membuat perempuan layak untuk melawan pertama kali.

Hal lain yang memperkuat koneksitas masyarakat Mollo dengan alam adalah, penghancuran dan pemindahan batu mangan merupakan simbol yang dapat mendatangkan malapetaka pada budaya dan adat istiadat. Sebab, batu mangan adalah simbol identitas—selain pohon dan air—yang mereka sebut Fatu (batu) Metan (hitam) dalam bahasa Dewan. Identitas itu juga membentuk filosofi hidup atoni pah meto (orang dari tanah kering—sebutan untuk orang Timor) bahwa elemen-elemen bumi sesuai dengan anatomi tubuh manusia.

Ancaman tambang dan koneksitas perempuan-alam memunculkan gelombang perlawanan perempuan. Etty Anne, Yosina Lake dan Aleta Baun menjadi organisator gerakan merebut kembali kawasan Muntis. Aksi-aksi mereka beragam dan lokalistik, seperti aksi payudara yang menyimbolkan bahwa selama ini hidup-mati manusia sangat ditentukan menyusu pada tanah yang merupakan personifikasi seorang ibu.

Lalu aksi damai pada 2006 yang diikuti 150 perempuan Mollo, mereka duduk di atas batu-batu mangan di kawasan pertambangan. Mereka beraksi dengan cara menenun kain tradisional. Aksi tersebut dilakukan selama satu tahun, sebagai wujud dukungan terhadap perempuan untuk menguasai kembali hak mereka atas tanah dan alam. Sedangkan laki-laki melakukan pekerjaan domestik seperti memasak, membersihkan rumah, dan mengasuh anak-anak selagi perempuan melakukan aksi.

Aksi lain yang dilakukan bersama seluruh warga, yaitu bermukim di area perbukitan Mutis. Mereka melakukan kegiatan-kegiatan produktif untuk memberdayakan diri, seperti pertanian organik untuk ekonomi subsisten. Kemudian mereka memperjualbelikan hasil panen bersama kain tenun tradisional.

Aksi-aksi tersebut terus dilakukan untuk mempertahankan alam mereka, sampai akhirnya pada tahun 2010 para penambang angkat kaki dari pegunungan Muntis. Keberhasilan itu menjadi titik berangkat masyarakat Mollo untuk kembali mengembangkan diversitas pangan, yang mereka sebut salome (satu lobang rame-rame, menanam berbagai benih dalam sekali semai). Dengan begitu mereka tidak bergantung pada satu jenis makanan saja. Pengaktifan kembali salome kemudian dikembangkan untuk mengembalikan tanah pada pola pengasuhan yang semestinya, yaitu metode pertanian agrikultur dengan pola diversifikasi

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button