Opini

STOP MENSUBORDINASI ALAM DAN MENGANGGAP DIRI PALING SUPERIOR

Oleh : Rika Nur Fadilah*

Ulah manusia yang semakin hari semakin tidak masuk akal membuat bumi menjadi geram. Manusia tidak menyadari hakikat alam raya sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya. Bagaimana tidak, bumi dan langit yang begitu mencintai kita rupanya tidak mendapat balasan serupa dari kita manusia, makhluk yang sedikit tidak punya rasa manusiawi ini.
Maka benar tidaklah boleh memaknai suatu ayat-ayat Al-Qur’an secara parsial sehingga menganggap bahwa dirinyalah makhluk yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah.

Maka penting memaknai ketiga istilah habl ma’a nafsih (etika manusia kepada diri sendiri), habl ma’a ikhwanih (etika manusia dengan sesama manusia) dan habl ma’a bi’atih (etika manusia dengan alam sekitar) yang akan mengantarkan kita pada ukhuwah makhluqiyyah (persaudaraan sesama makhluk). Sehingga hal ini menjadikan manusia agar semakin menyadari kemahabesaran Allah Swt. dan kesempurnaan setiap ciptaan-Nya. Relasi harmonis ini akhirnya melahirkan ibadah berjama’ah antara alam raya dan manusia kepada Allah Swt.

Pun dengan Al-Qur’an yang tidak membedakan eksistensi suatu makhluk dengan tidak memilah-milah apakah ia makhluk hidup atau makhluk mati. Jelas bahwa tidak hanya manusia, semua makhluk-Nya beribadah kepada Allah. Tumbuhan, hewan, tanah, bebatuan dan seluruh isi alam raya.
Berbeda dengan manusia, cara bertasbih atau beribadah makhluk Allah selain manusia adalah berserah diri dan tunduk kepada ketentuan Allah, agar manusia dapat menggunakannya sebagai fasilitas sumber kehidupannya. (Qs. al-A’raf 54; Qs. al-Anbiya’ 33).

Lantas mengapa kita saling mengganggu dalam menjalankan ibadah? Hal ini bermuara pada paradigma antroposentris yang tidak dibarengi dengan pemahaman isi al-Qur’an menjadi sebab pandangan parsial bahwa alam semesta tercipta untuk kebahagiaan hidup umat manusia sebagai pusatnya tanpa mengindahkan alam dengan tidak mengupayakan kelestarian demi menjaga usaha konservasi lingkungan. Akibatnya jiwa menjadi kering nilai spiritual yang berimplikasi terhadap ulah manusia dalam mengeksploitasi sumber daya alam serta perilaku manusia yang tidak menghormati eksistensi alam sebagai sesama makhluk ciptaan Allah Swt. Jika dianalogikan dengan silaturahim antarmanusia, pada dasarnya manusia akan saling menyayangi. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk ibadah terindah dari penyatuan hati, visi dan aksi yang akan melahirkan kerjasama harmonis antara manusia dan alamnya.

Maka tidak dibenarkan jika kita manusia menganggap alam raya sebagai makhluk inferior dan mensubordinasikannya.

*Koordinator Program Eco Masjid Komite Nasional Kader Hijau Muhammadiyah

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button